[Special Part] Love Madness: His Mind

20190323_230256_0001.png

Previous: 

Moonlight In The Darkness – An Affair To Forget – Don’t Mess Up With Me – The Craziest Thing  – All Of Me Want All of You – The Danger of Desire – [Special Part] Love Madness: The Rewind Story About Us – The Hidden World  – Lost Your Mind – Mine to Possess – It’s Love With Benefit –The Heartless Devil – [Special Part] The Death of The Heart

“So all the memories and shining moments, it’s over now. But I’m still living in that last moment.” ―Heize ft Colde, So its End?

-oOo-

Sehun mempunyai segalanya yang manusia lain inginkan. Namun, dia tidak sepenuhnya bahagia. Segala yang dia miliki bukan sesuatu yang dibutuhkan. Dulu ia mengira bahwa menjadi yang pertama, membiarkan yang lain menjadi pecundang akan membuatnya bahagia. Kenyataannya, tidak. Ada sesuatu yang harus pria tersebut korbankan saat dia memilih untuk serakah dengan memiliki segalanya.

Jung Nara, salah satu hal yang ia korbankan untuk memuaskan keangkuhannya.

Sehun berpikir bahwa hidupnya akan baik-baik saja tanpa gadis itu. Ia sudah terbiasa dengan rasa sepinya saat orang datang kemudian pergi begitu saja. Sehun selalu dapat mengatasi apa pun itu karena dia berkuasa. Sehun yang dapat menaklukkan segala hal pun ternyata bisa mati rasa. Dia membiarkan logika dan hatinya bekerja sama untuk melakukan kesalahan fatal.

Jatuh cinta, dia tidak seharusnya mengabaikan segala hal demi cinta. Sehun tidak membayangkan bahwa dirinya akan masuk ke dalam cerita melankolis yang berakhir tragis. Dia bisa menggunakan kehendaknya agar Nara tetap berada di sisinya. Akan tetapi, Sehun justru melepaskan gadis itu begitu saja agar Nara lebih bahagia. Sementara dirinya berduka. Untuk pertama kalinya dalam hidup yang penuh keegoisan, Sehun berkorban demi orang lain.

“Sampai kapan kau akan memandangi, Adikku?” lamunan Sehun buyar ketika suara Chanyeol memecah keheningan.

Mereka sedang berada di salah satu restoran, tepat di lantai paling atas―khusus pengunjung VVIP. Sehun dapat melihat ke luar, melalui jendela dengan kaca satu arah. Sehun tertarik dengan pemandangan cantik di sana. Ada Jung Nara yang sedang memimpin jalan anak-anak kecil sekitar usia empat sampai lima tahun―murid-murid sekolah baletnya. Sehun menatap Nara yang tampak bahagia, hatinya merindu. Ingin rasanya Sehun berlari ke sana, memeluk Nara―menyalurkan kasih sayangnya. Lantaran demikian, Sehun memilih menghormati permintaan mantan istrinya yang tak ingin mereka bertemu lagi.

Ini bukan pertama kalinya Sehun secara diam-diam mengamati gadis itu dari kejauhan. Sehun melakukan apa pun demi bisa menatap wanitanya, ia bersikap demikian agar dapat mempertahankan kewarasannya.

“Nara mengganti warna rambutnya,” gumam Sehun, matanya yang tajam tetap tertuju pada gadis itu.

Chanyeol yang tak diacuhkan pun hanya dapat memutar bola mata. Dia duduk di salah satu kursi empuk, tangannya meraih roti lapis isi daging. Chanyeol lah yang pertama kali menangkap basah Sehun saat kawannya itu sedang menguntit Nara, dua tahun lalu. Nara yang memang ceroboh tak menyadari bahwa ada beberapa orang yang sengaja disewa Sehun untuk menjaga gadis itu. Chanyeol tentu saja marah, tetapi emosinya meredup setelah ia melihat keadaan Sehun. Pria arogan yang tidak pernah takluk tersebut justru memohon pada Chanyeol. Sehun meminta agar Chanyeol tetap membuat Nara berada dalam jangkauannya dan mengizinkan Sehun untuk terus melihat wanita yang dicintainya.

Chanyeol mencuri pandang sebentar, kemudian berkomentar, “Well, Nara memang sedang terobsesi dengan warna coklat. Ia bahkan memintaku menemaninya pergi ke pantai. Kau tahu di sini sulit menemukan tempat semacam itu,” Chanyeol mulai berkicau santai.

“Kalau begitu, bujuk dia agar pulang,” Sehun membalas getir.

Kata ‘pulang’ menjadi sangat pahit bagi Sehun. Bagaimana Nara bisa pulang jika dia tidak menganggap Sehun sebagai rumah? Sehun pun demikian, ia tidak bisa kembali ‘pulang’ setelah Nara enggan menjadi rumah bagi pria itu. Sehun dan Nara kiri serupa, mereka hanya terombang-ambing dalam kehampaan. Tidak ada tempat bagi mereka untuk beristirahat. Kini mereka terlalu lelah hingga ingin mati saja.

“Sayangnya dia sudah jatuh cinta pada Swiss,” potong Chanyeol. Pria itu melanjutkan ucapannya setelah tersenyum penuh kemenangan. “Dia berhasil melupakanmu. Cukup dua tahun, adikku sudah berkencan dengan pria lain. Kau tahu laki-laki yang memotret Nara,” Chanyeol menunjuk ke arah pria Asia yang tinggi itu―gesturnya mirip sekali dengan Sehun.

Chanyeol sedang berbohong, Sehun mengerti. Melupakannya? Sehun yakin, Nara sama menderitanya dengan dirinya. Tidak mudah bagu mereka untuk saling melupakan. Namun, tetap saja! Membayangkan Nara-nya bersama pria lain … membuatnya marah.

Sehun menaikkan satu alis, ketika mata coklatnya membingkai pemandangan yang tak ia sukai. Nara tengah tersenyum kepada pria yang entah siapa, jenis lekukan bibir yang tulus―dulu Sehun sering mendapatkannya. Kini dia tak rela ketika Nara tersenyum karena pria lain.

“Dia sudah mengajak Nara berkencan. Gadis itu setuju. Bukan kah adikku sungguhan cakap dalam hal berpaling ke orang lain? Ternyata gen ibuku yang suka jatuh cinta itu menurun padanya,” koar Chanyeol.

Sehun mulai tersulut dengan ucapan lawan bicaranya, tapi dia tetap memasang topeng baik-baik saja untuk menutupi ekspresi yang sesungguhnya. Jelas Sehun akan bertindak setelah ini, misalnya memberikan pria itu ‘sedikit’ pelajaran agar enggan muncul lagi di hadapan wanitanya. Bukan tangan Sehun yang melakukan tindakan kotor tersebut, tapi orang lain.

“Singkirkan dia,” desis Sehun. Dia berbalik, tatapannya dingin.

Chanyeol menyeringai. “Aku sudah menghajar tiga orang pria yang berusaha mendekati Nara. Dia pria ke empat dan yang paling gigih,” Chanyeol memberi komentar. Dia berdiri dari duduknya, menepuk pundak Sehun. “Mungkin sudah saatnya kau harus melepaskannya atau turun tangan,” lanjutnya.

Sehun diam. Melepaskan Nara? Jelas dia menolak. Lebih baik Nara meninggalkan dunia ini apabila orang lain yang bersamanya.

Sehun tidak akan pernah membiarkan Nara benar-benar pergi dari hidupnya. Jika gadis itu enggan menjadi miliknya lagi, maka tidak ada satu pun pria yang pantas berada di sisinya.

Sikap Sehun yang protektif dan ambisius ini lah yang mendorong terjadinya kesalahan besar yang pernah ia perbuat dua tahun lalu. Menyakiti Nara dengan peluru yang dia tembakkan sendiri. Sehun masih mengingat dengan jelas semua itu dimulai dari pertemuannya dengan Bae Sojin, sepupunya sekaligus istri dari kakak tiri Nara.

Gadis yang kadar kewarasannya diragukan tersebut kala itu menghampiri Sehun yang baru saja menyelesaikan rapat. Pikiran Sehun sudah terlalu rumit untuk menyelesaikan permasalahan dalam perusahaannya yang tengah dilanda sedikit masalah akibat pernikahannya dengan Nara. Posisinya sebagai CEO mulai dipertanyakan jika dia sampai memiliki keturunan dari seorang gadis yang tak jelas asal-usulnya. Seperti Nara. Sojin justru semakin menyiram minyak dalam kobaran api.

“Aku yakin kau akan pensiun dini dalam waktu satu minggu,” ucap Sojin memulai perbincangan.

Sehun yang baru masuk ke dalam ruangan pun. Memberikan ekspresi suram. Ia berniat mengusir Sojin dari ruangannya karena yang bisa Sojin suguhkan hanya permasalahan.

“Aku tidak punya waktu banyak, pergi dari sini,” ucap Sehun dingin.

Sojin melemparkan dokumen ke meja Sehun. “Nara sedang hamil. Apa kau tahu?” tanya Sojin. Gadis itu tersenyum miring ketika melihat respons Sehun, saudara sepupunya itu terkejut. “Dan belum bisa dipastikan siapa ayah biologis bayi itu. Kau atau Kim Jongin,” sambungnya.

Sehun membuka dokumen yang diberikan oleh Sojin. Dia membacanya dengan serius. Kertas-kertas itu menampilkan beberapa fakta mengenai orang tua Jung Nara, keterlibatan Keluarga Kim untuk menghilangkan jejak bahwa Nara adalah putri kandung dari keluarga mereka, dan salinan dari buku harian Nara.

“Pertanyaanku adalah … apa Nara sudah mengingat bahwa ia memilih untuk membunuh bayinya sendiri demi Kim Jongin?” Sojin berdecap kecil, dia kembali bersuara meskipun Sehun diam, “Jung Nara wanita yang mengerikan. Bagaimana bisa dia sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalahnya?”

Sehun meraup wajah, Pikirannya tercampur banyak masalah, ia ingin penjelasan dari semua ini. Pria itu mengambil ponselnya. Ia mencari keberadaan Nara, ponsel pintar Sehun memang terhubung dengan alat pelacak yang sengaja pria itu selipkan di liontin istrinya.

Sayangnya, takdir baik memang enggan berpihak pada Nara. Sang istri justru berada di dalam kediaman Keluarga Kim. Cerita sedih pun memihak alur mereka.

Sehun masih mengingat dengan jelas runtutan kejadiannya. Ia tanpa ragu menyakiti Nara setelah semua prasangka buruk itu menyelimuti. Oh Sehun yang kerap berpikir jernih dan membuat keputusan yang tepat, justru jatuh pada kesalahan yang sama. Insiden tersebut terjadi begitu cepat, Sehun sengaja menembakkan peluru itu.

Apa alasannya?

Agar tidak ada yang mengancam kebersamaan mereka.

Agar tidak ada yang meragukan lagi ayah biologis dari janin yang dikandung Nara.

Agar dia tetap aman berada di posisinya.

Sehun tak menyesali perbuatannya, satu-satunya hal yang membuatnya menderita saat ini ialah keputusannya membiarkan Nara pergi. Ia terpaksa mengambil keputusan itu karena Nara berusaha menyakiti dirinya sendiri. Jung Nara yang egois dan mementingkan nyawanya, kini begitu membenci Sehun hingga ingin bunuh diri. Kenyataan itu yang melukai Sehun. Sehun berharap Nara tak berubah. Ia enggan melihat Nara kehilangan kewarasannya. Nara harus tetap menjadi wanita yang sempurna dalam hidup Oh Sehun, itu hal mutlak yang tak dapat diubah.

Pikiran Sehun memang hanya terfokus pada Jung Nara, tapi bukan berarti hidupnya berhenti begitu saja. Ia mempunyai banyak hal yang harus dilakukan. Keberadaannya di dunia ini dibutuhkan perusahaannya. Ia harus cukup sehat secara fisik agar tetap bisa menjalankan perusahaan. Banyak karyawan yang menggantungkan hidup padanya. Kewajibannya adalah menjaga bahwa eksistensinya masih ada.

Orang lain akan menganggap Sehun sosok yang sempurna. Dia tampak baik-baik saja, tapi jauh di luar sana hatinya sedang berduka. Dulu ia sempat kabur dari kewajibannya dalam keluarga, mengambil sebuah nama yang asing yaitu William. Sehun terbang jauh hingga ke New York, ia ingin mencoba kehidupan baru yang mungkin didapatkannya apabila dirinya tidak terlahir sebagai Oh Sehun.

Cita-citanya menjadi seorang barista dan kecintaannya terhadap kopi, itulah yang membuatnya merasa bebas ketika menjadi William. Seumur hidupnya dihabiskannya untuk bersaing menjadi yang pertama dalam segala hal, ketika dia menjadi Will hari-harinya hanya dipenuhi ketenangan. Kehidupan Will adalah sebuah mukjizat baginya, dia berhasil kabur dari jerat keluarganya―menyamar serta mengasingkan diri. Will juga jatuh cinta dengan Aubree, setelah sekian banyak wanita yang ia taklukkan. Jatuh cinta dengan cara yang sederhana.

Semuanya berubah menjadi sebuah petaka. Aubree, wanita yang sangat dipercayainya justru mengkhianati. Sehun kehilangan kesempatannya menjadi Will, Nara membongkar identitasnya―tempat persembunyian Sehun hancur. Tanpa penjelasan, Nara menghilang begitu saja.

Sehun masih mengingat perintahnya kepada pengawal yang sengaja ia bayar untuk mencari Aubree. Ia mengatakan kepada mereka, “Beri dia kesempatan untuk datang menemuiku, jika tidak jangan biarkan dia selamat.”

Tidak lama setelah perintah itu ia ucapkan, mereka justru melaporkan hal yang sangat tak terduga. Aubree Jung sedang mengandung. Wanita yang ia nikahi kemudian kabur itu menyembunyikan hal sebesar itu darinya.

Kepercayaan Sehun semakin meluruh hingga tidak tersisa lagi. Pilihan untuk terus hidup bagi Aubree menghilang.

“Aubree Jung harus mati,” itulah keputusan Sehun sebagai William.

Tak berselang lama, kecelakaan tersebut terjadi. Aubree Jung menghilang dari dunia. Will pun memutuskan untuk kembali menjadi Sehun karena nama William terlalu menyakitkan baginya. Akhirnya, mereka berdua―Aubree dan William lenyap.

Si pria mengira bahwa hidupnya akan kembali seperti dulu. Ia berusaha mengisi tempat Aubree dalam hatinya. Sehun mulai mengencani wanita-wanita lain di luar sana dan tidur bersama mereka. Sekian lama ia mencari, tidak ada yang menggetarkan dirinya. Bahkan ketika Sehun berusaha menyamar lagi, membuka bar kemudian menjadi bar tender. Semuanya terasa asing bagi dirinya, tidak menyenangkan selayaknya dulu. Semua kehampaan itu hilang saat Aubree Jung tiba-tiba muncul di depan bar miliknya, dalam kondisi basah kuyup.

Murka yang dulu ia simpan pergi begitu saja saat melihat Aubree kembali sebagai orang lain. Namanya Jung Nara dan dia tidak mengingat apa pun.

Sehun seolah tertarik ke dalam masa lalu. Ia mencintai gadis itu dengan begitu mudah. Sehun berjanji kepada dirinya, jika dia tidak akan menjadi William yang malang untuk kedua kalinya. Sehun enggan peduli pada kehidupan Jung Nara. Akan tetapi, setelah menatap matanya, Sehun menyadari apabila Nara masih sama halnya dengan Aubree―gadis yang kesepian dan ditinggalkan.

“Aku akan memberikanmu tempat tinggal, tapi sebagai gantinya. Kau harus bekerja di sini―dalam pengawasanku,” Sehun mengucapkan kalimat tersebut saat pertemuan pertama mereka sebagai Sehun dan Nara.

Nara hanya memberikan pandangan sayu. Ia mengangguk, meskipun tidak yakin dengan pilihannya.

Sehun pun bergeming. Netranya menelusuri paras gadis itu. Tidak berubah. Nara tetap rupawan seperti dulu. Tanpa sadar, ia jatuh cinta lagi.

Aku hanya memerlukan dua detik untuk kembali mencintaimu, Nara.

Dan … aku butuh waktu selamanya untuk melupakanmu.

Sehun hampir percaya bahwa Nara berbeda dengan Aubree. Nyatanya, Nara tetaplah Aubree. Mereka gadis yang sama, licik, penuh tipu muslihat, dan mengkhianati Sehun untuk ke sekian kalinya.

Pengkhianatan itu terjadi lagi saat Sehun kembali ke Swiss untuk menatap gadis itu. Entah bagaimana, Sehun secara tak sengaja memergoki Nara berciuman dengan pria lain yang sempat dibicarakan Chanyeol.

Sehun yang awalnya ingin tetap bersembunyi pun terlalu terbakar. Langkah kakinya menghampiri mereka yang sedang bercumbu mesra.

Sehun mencengkeram bahu si pria hingga kecupan mereka terputus. Satu pukulan telak dilayangkannya.

Netra Sehun yang tajam berganti menatap Nara. Gadis itu justru menyeringai puas.

Nara berucap, “Berengsek, kau akhirnya kalah.”

Sehun pun mengepalkan tangannya. Dia tidak bisa menahan diri lagi, Sehun menarik Nara dengan kasar.

Ia menemukan apa yang dia cari, bibir itu yang dia rindukan.

Nara, Sehun sudah kalah telak.

-oOo-

Hai, apa kabar? Aku lagi rajin nulis Love Madness nih.
Well meskipun ini special part, tapi bagian ini penting juga untuk dibaca karena ceritanya masih terkait dengan part sebelumnya dan selanjutnya.
Aku harap masih ada yang membaca cerita ini. Aku menunggu komentar dari kalian setelah membaca Love Madness. Baiklah, sampai jumpa!
Aku harap tidak ada silent reader ya karena part terakhirnya akan aku kunci.

Advertisements

106 thoughts on “[Special Part] Love Madness: His Mind

  1. elyazuna says:

    Kalo diliat dr sisi Sehun dan Nara, mereka berdua menderita, cara Sehun salah itu yg bikin semua berantakan.
    Jd selama ini Nara tau dia diawasi

  2. Bingkai Fatamorgana says:

    kaak…maaf baru ninggalin jejak ya :’)

    anyway kisah mreka selalu di tungguuu.. couple kesayangan banget nh hehe ♡

    ohya di part ini kerasa banget gimana terobsesinya sehun ke nara..
    duh harusnya aku bilang ngeselin ya..yp kenapa yang kebayang malah itu sexy (?)
    wkwkwk udah error ini otaknya aku keknya 😂

  3. 94LUV says:

    Ooohooooo nara sengaja nih buat mancing sehun😁 seperti biasa hati selalu terombang ambing tiap baca cerita kakak❤

  4. EXOSehunFangirl says:

    I’ ve been waiting this for so long ….. w selalu cari cerita lain sambil nunggu ini kisah berlanjut…. penasaran sama akhirnya bangetttt.. fighting author ! W bakal cari sampe keujung dunia password ceritanya kalau2 sampe di private wkwkwkwk

  5. Yunita says:

    Nah kan, hubungan mereka ini rumit. Tapi kalau memang mereka udah ditakdirkan untuk bersama, mau jadi Aubree – Will/ Nara – Sehun ya tetep aja bakalan bersatu. Tapi kalau sebaliknya, yaudah mau gimana lagi :). Ngikut kakak authornya aja deh, giman hubungan mereka nanti

  6. aryanahchoi says:

    apa nara memanfaatkan pria lain untuk memancing sehun agar keluar?

    spesial part tapi seru kyk part biasanya eon gx terlalu flashback soalnya😁

    akankah nara n sehun bakal balik jadi “rumah” lagi?

    bisa gx ya selain email? akhir2 ini jaringan gue ngajak “ngobrol”

    eon gx punya fb?

  7. kyungsa says:

    ya ampunn, sumpah gila duh gatau kenapa gabisa moveon dari nara sehun. Walaupun jahatnya mereka berdua tapi rasanya tetep dukung sampe terakhir. Semoga aja happy ending dah. Semangat Kak Tiss:*

  8. Fazriyah53 says:

    Jadi nara ngejebak sehun buat keluar dari persembunyiannya gitu? Nara udah tau kalo selama ini diawasin sama sehun?
    Ini mereka sebenernya masih saling sayang cuma diem diem bae wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s