Love Madness: I Will Spend My Whole Life Loving You

 

20190317_100748_0001

Previous: 

Moonlight In The Darkness – An Affair To Forget – Don’t Mess Up With Me – The Craziest Thing  – All Of Me Want All of You – The Danger of Desire – [Special Part] Love Madness: The Rewind Story About Us – The Hidden World  – Lost Your Mind – Mine to Possess – It’s Love With Benefit –The Heartless Devil – [Special Part] The Death of The Heart – [Special Part] His Mind

“I’m still here, not able to forget you.” ―Hope Not, Blackpink


-oOo-

Aku selalu ragu dengan keputusan yang telah kubuat. Aku mungkin akan menyesal nantinya, itu lah yang ada dalam benak ini setelah mengambil salah satu jalan dalam dua pilihan yang berbeda. Aku mengira diriku akan jauh lebih menyesal setelah meninggalkan Sehun. Namun, aku kini bahagia. Perasaan tersiksa karena harus membenci pria yang kucintai berangsur-angsur meluruh. Dari sana lah aku memahami bahwa diriku butuh waktu sejenak untuk bernapas agar bisa berdamai dengan segalanya.

Hah. Sebuah intro cerita yang penuh kebohongan.

Aku masih dalam fase untuk mencoba berdamai, belum memaafkan.

Jika nanti aku telah memaafkan bukan berarti aku melupakan.

Yang artinya, rasa sakit itu tetap ada.

Sayangnya, dari segala hal yang masih ada dalam ingatanku, cinta itu, lebih besar adanya daripada rasa sakit.

Setiap hari, aku merindukannya. Berandai-andai dia berada di sisiku, tangannya menggenggam jari-jariku, dan tubuhnya memelukku. Aku akan mengatakan banyak hal mengenai betapa hampanya kehidupanku tanpa Sehun. Mungkin aku terdengar sebagai orang paling bodoh sebab tetap mengharapkan dia yang jahat. Andai saja, setiap orang bisa memahami pikiranku dan mengalami setiap detail kisah menyakitkan yang sudah kualami. Aku hanya takut salah memilih. Aku khawatir diriku akan masuk dalam penderitaan yang baru. Aku ragu pada segala hal, setelah setiap orang menunjukkan kepalsuannya padaku.

Tidak ada yang mengharapkan diriku di sini.

Aku berusaha memulai kehidupan baru dengan menghapus kenangan lama. Aku meminta Chanyeol―kakak laki-lakiku untuk membawaku pergi jauh. Aku ingin lari dari kehidupan yang berat. Aku enggan memikirkan permasalahan Jung Nara dan semua hak waris yang kudapat. Aku tak ingin bertemu orang-orang yang bisa menyakitiku.

Aku ingin bahagia, meskipun harus menyimpan kerinduan pada Sehun.

Sayangnya, sejauh apa pun aku pergi―aku tetap tidak bahagia.

Aku hanya berpura-pura bahagia agar diriku tak menyesali keputusan yang telah kuambil.

Aku hanya ingin mereka yang menyangyangiku tidak merasa khawatir. Well, walaupun hanya Chanyeol yang peduli pada diriku.

Chanyeol selalu tampak cemas ketika melihatku murung. Maka dari itu, ketika dia bertanya, “Nara apa kau bahagia?”

Dia menyuarakan pertanyaan yang sama setiap pagi membuatku semakin merasa bersalah.

Aku hanya menjawab dengan senyum simpul.

“Kapan pun kau tidak bahagia saat berada di sini dan ingin kembali, katakan padaku. Aku akan segera membawamu pulang,” Chanyeol lantas menimpali.

Andai saja dia tahu, aku sudah merasa tidak bahagia sejak awal.

Sejak aku meninggalkan Sehun dua tahun lalu.
Aku berharap waktu akan mengobati lukaku.

Yang ada, waktu membuatku semakin pandai dalam berpura-pura.

“Aku tidak punya rumah untuk pulang,” bisikku. Aku menghela napas panjang.

Chanyeol hanya menatapku. Aku melihat belas kasihan dalam matanya. Dia memahami setiap ucapanku.

Mungkin hanya aku satu-satunya orang yang ditakdirkan untuk terus berkelana, aku tak punya rumah sebagai tempat beristirahat. Apa ini sebuah hukuman atas ketamakanku?

“Aku senang berada di sini,” aku melanjutkan dusta.

Aku segera menyelesaikan makan pagiku sebelum Chanyeol melayangkan balasan. Aku tidak suka mendengar keraguannya. Aku ingin dianggap baik-baik saja sebab tidak ada jalan kembali lagi.

Aku segera mengemasi barangku yang kuperlukan untuk mengajar. Aku menjadi salah satu mentor di studio balet. Well, meskipun kakiku belum sembuh sempurna, terapi yang rutin kulakukan di Swiss sangat membantu. Paling tidak, balet sedikit mengalihkan perhatian benak ini. Lagi pula, aku bertugas untuk mengajari anak-anak berusia lima sampai tujuh tahun. Mereka sangat lucu. Aku bisa lebih berdamai dengan diriku yang tidak bisa menjaga bayiku dengan berinteraksi bersama mereka. Tentu saja, memulai balet kembali adalah ide brilian dari Chanyeol.

Chanyeol yang menyarankan banyak hal padaku. Dia yang membantuku bangkit. Awalnya, aku serupa patung saat pertama kali datang ke Swiss. Aku hanya diam tanpa ekspresi, menangis semalaman ketika Chanyeol tidur. Menyesal dan merindu. Aku lebih baik sekarang, dalam arti emosiku bisa lebih dapat dikendalikan.

Aku menemui seorang psikiater bernama Kris. Dia menjadi teman baikku, bahkan aku yakin pria keturunan Asia-Amerika itu mempunyai ketertarikan padaku. Dia mengatasi masalah mentalku dan membantuku beradaptasi dengan Swiss. Aku membiarkannya menciumku satu bulan lalu. Aku tak menolaknya saat dia mengajakku berkencan. Aku bercerita tentang Sehun dan bayiku kepadanya. Kris tampak tidak terganggu dengan perasaanku yang masih tertinggal kepada Sehun. Dia menemaniku menangis semalaman di apartemen saat Chanyeol harus melakukan perjalanan ke luar negeri. Kris mendengarkan setiap rasa yang ada dalam hatiku mengenai mantan suamiku, tanpa memberikan penilaian atau protes sekali pun. Itu yang membuatku nyaman bersamanya.

“Kau terlihat murung,” itu yang Kris katakan ketika menjemputku. Dia rutin mengantarkan diriku ke studio balet.

Aku segera masuk ke dalam mobilnya. Tanganku menyodorkan roti isi, Kris jarang sekali sarapan. Dia memintaku untuk membuatkan kudapan sebagai ganti layanan antar jemputnya.

“Makan pelan-pelan,” aku memperingatkan saat dia mulai menelan bulat-bulat roti itu. “Chanyeol menawariku untuk kembali,” aku membuka suara sewaktu mobil yang kami tumpangi mulai melaju.

Kris yang menawan seperti biasanya hanya diam, ia menatap lurus. Aku melihat Kris terlampau mirip dengan Sehun, cara dia berjalan, caranya menyetir dengan satu tangan, caranya menekuk kemeja hingga sesiku, dan caranya menatapku. Aku seolah melihat sosok Sehun dalam dirinya.

“Kalau kau sudah bisa memaafkan segalanya, pulang saja,” ungkapnya.

“Bukannya kau menyukaiku?” Tanyaku. Aku menarik napas. “Kenapa kau membiarkan aku pergi dengan mudah?
Kris tersenyum, “Justru karena aku menyukaimu dan mengenalmu dengan baik, aku harus membiarkanmu bebas.”
“Bodoh,” aku berucap tanpa berpikir panjang.

Kris menghentikan mobilnya tepat di studio tempatku bekerja. Dia membelai puncak kepalaku ringan. “Aku tidak ingin kau terus berbohong pada semua orang―pada dirimu sendiri. Kita tidak bisa memilih untuk jatuh cinta atau membenci, Nara. Kau juga tidak dapat terus menutupi perasaanmu karena itu akan membuatmu tersiksa. Aku tidak ingin wanita yang kucintai kehilangan kewarasannya. Satu hal lagi, Nara, kau harus bahagia dengan keputusanmu,” jelasnya.

Aku menyembunyikan senyumku. Aku memeluknya. “Kau pria yang baik, Kris,” kataku.

Aku tahu dia pria yang baik sebab tidak banyak orang bisa melepaskan cintanya. Apalagi dapat bersikap lapang dada. Dia terlalu baik untukku.

“Kita bisa tetap berteman,” balas Kris. Dia membalas kungkunganku hangat seperti biasanya. “Tapi, jika kau sungguh-sungguh sudah melupakannya, janji padaku, aku akan jadi orang pertama yang akan kau pilih,” lanjutnya kemudian tertawa.

Kris sedang bercanda.

Karena dia tahu, aku tak akan pernah bisa melupakan Sehun. Aku menghabiskan hidupku untuk mencintainya, hingga akhir.

“Sehun mengawasiku,” aku memberikan pernyataan itu ketika Chanyeol sedang bersantai menikmati waktu liburnya.

Chanyeol yang sedang tidur terlentang di sofa dengan masker timun menempel di wajahnya pun tidak tampak terkejut. Ia justru menepuk parasnya agar ramuan skin care itu meresap sempurna, semakin membuatku kesal.
Aku melemparinya dengan bantal sofa hingga potongan timun yang ada di wajahnya jatuh. Chanyeol berkacak pinggang, ia memberengut.

“Aku tahu,” balasnya enteng.

Aku membolakan mata. “Kalau kau tahu, kenapa tidak mengatakannya padaku?” Bibir ini menuntut jawaban.

“Dia membayarku mahal―aduh, Nara! Berhenti memukul,” Chanyeol mulai protes.

Aku tidak peduli dan terus melampiaskan kekesalanku padanya. Itu harga yang dibayar karena membuat jantungku hampir lepas dari tempatnya. Bagaimana tidak? Aku setengah mabuk tadi, membiarkan Kris menciumku di klub. Tiba-tiba saja Sehun datang memukul Kris. Sehun―pria yang selama ini hanya berada di mimpi datang secara nyata.

Aku duduk di sofa setelah capek menghajar Chanyeol. “Harga diriku hampir saja hilang,” aku menggerutu.

“Apa kau menampilkan wajah terkejut yang berlebihan?” Tanyanya dengan nada tengil.

Aku memberikan tatapan mata tajam. “Tentu saja tidak, aku bertingkah seolah sudah tahu dia terus mengawasiku selama ini karena dia memiliki kuasa untuk bertindak demikian dan aku yakin kau turut andil.”

Chanyeol tertawa. “Lalu, apa yang Sehun lakukan padamu?” ia pun bertanya.

Pikiranku melayang menuju adegan satu jam lalu. Otakku langsung lumpuh saat Sehun menciumku. Aku sungguhan kehilangan arah.

“Dia menciumku,” aku berbisik.

Tawa Chanyeol semakin keras. “Aku kira Sehun langsung menarikmu ke ranjang, mengingat dia sangat terobsesi padamu .”

Jantungku berdebar sangat keras mendengar ungkapan kakak laki-lakiku. Aku juga terlampau ingin menyentuhnya. Tidak, aku bukan lagi wanita murahan yang akan melemparkan diriku padanya.

“Aku akan melaporkannya ke polisi jika dia berniat menguntitku lagi―”

“―Maka kau akan berurusan denganku, Jung Nara. Sehun adalah salah satu klien yang royal,” potong Chanyeol sembari tersenyum lebar.

Aku menggigit bibir. “Kau terkesan memihak padanya,” kataku.

Chanyeol menaikkan bahu cepat. “Sehun telah menebus kesalahannya. Dia menemukan sesuatu yang aku yakin membuatmu sangat bahagia,” ucapnya penuh rahasia. Pria itu berdiri, menepuk bahuku kemudian kembali membuka suara, “Aku jamin setelah ini, Sehun akan menemuimu secara terbuka.”

“Tapi, dia sudah berjanji untuk menghormati permintaanku!” Aku menegaskan.

Chanyeol mengerling, “Singa tidak akan melepaskan buruannya semudah itu, Nara. Semoga berhasil.”

Semua ungkapan Chanyeol memang tidak main-main. Sehun sungguh muncul di hadapanku. Seperti sihir kepemilikan studio balet ini berpindah tangan. Pria berengsek yang sangat kucintai itu memperkenalkan diri sebagai pemilik sekaligus direktur utama dari studio balet ini. Puluhan kali aku mengumpat, melihat Sehun yang berpenampilan kasual―sweater biru tua dan celana jeans. Hanya orang buta yang tidak memujinya tampan, bahkan kepala kami―Mrs.Frances berulang kali mengedipkan mata padanya.

Awalnya, High Step―nama studio balet ini―adalah tempat yang paling menyenangkan di Swiss, kini justru menjadi area yang membuatku waswas ketika mulai menginjakkan kaki di sini. Apalagi, Mrs. Frances memintaku menemani Sehun berkeliling, menunjukkan setiap lantai dari studio balet.

Ayolah, peserta briefing siang ini ada lebih dari dua puluh guru dan sepuluh staf. Kenapa aku yang harus berhadapan dengannya?

Kakiku benar-benar berat ketika melangkah bersebelahan dengan dirinya. Celakanya lagi, mataku tidak bisa berhenti mencuri pandang, mengagumi tubuhnya yang semakin sempurna. Dia terlihat jauh lebih rupawan. Bohong, jika aku mengatakan bahwa diriku tak menyukainya lagi.

“Bagaimana kabarmu setelah mengalahkanku kemarin?” tanya Sehun saat kami berjalan melewati lorong lantai satu, matanya terfokus pada kelas bercat merah muda itu.

“Hubungan kita tidak cukup akrab untuk saling menanyakan kabar―“

“―Tidak cukup akrab, tapi kau sama sekali tidak menolak sewaktu aku menciummu kemarin,” potongnya.

Tepat sasaran.

Aku membalas kecupan Sehun dengan suka rela. Bahkan aku memegangi lehernya enggan melepaskan. Aku lebih mirip seperti wanita gila dan maniak skinship. Jung Nara, mati saja kau! Pikiranku sedang sangat panik, merutuki kebodohan yang telah kubuat.
Lantaran menunjukkan ekspresi gentar, Aku memilih menampakkan raut dingin seolah Sehun tidak cukup menarik untuk diperhatikan.

Sehun cuek saja mendapati sikap jahat dariku. Dia justru tersenyum simpul―salah satu hal yang menjadi favoritku adalah ungkitan bibir tipis itu. Sehun tahu kelemahan seorang Jung Nara, aku benar-benar murahan.

“Apa studio balet ini dikhususkan untuk anak-anak?” Sehun bersuara kembali.
Aku membuang muka.

Sehun tidak terima dengan respons yang kuberikan. Aku bisa melihat alisnya naik melalui pantulan kaca. “Kau sudah cukup dewasa untuk membedakan masalah pribadi dan pekerjaan,” ujar Sehun dengan nada memperingatkan.

Aku menggeram. “Lantai satu hanya untuk usia di bawah tujuh tahun,” jawabku setengah hati. “Aku sangat bisa membedakan urusan pekerjaan dan pribadi. Hanya saja, aku tidak habis pikir, kau punya ketertarikan mengelola bisnis studio balet. Aku yakin masih banyak hal lain yang dapat menghasilkan uang lebih banyak,” aku mulai menggerutu.

Sehun mengangguk. “Memang masih banyak yang lebih baik di luar sana, sayangnya hanya studio balet ini yang bisa menarik perhatianku,” jawab Sehun. Pria jangkung dan berkulit seputih susu itu memajukan langkah, dia menyeringai.

Pipi ini memanas. Ayolah, Jung Nara setelah semua air mata yang mengalir deras―kenapa aku seolah terjatuh lagi dalam tipuannya?

“Jangan menggangguku, kau sudah berjanji untuk tidak menemuiku sebelum aku yang meminta!” Aku berseru. Aku mengalihkan tatapan, bibirku bergumam, “Dasar berengsek.”

Sehun mencengkeram tanganku yang hendak mendorong tubuhnya. “Apa kau tahu salah satu hal yang akan dilakukan pria berengsek sepertiku, Nara?”

Sehun mendorong mundur tubuhku hingga membentur dinding. Tidak sepenuhnya mengenai dinding, dia menggunakan tangannya untuk melindungi punggungku agar tidak sakit.

“Lepaskan, berengsek!” aku menggeram.

Sehun menyeringai. Dia berbisik pelan ke indra pendengaranku, “Pria berengsek selalu mengingkari janjinya, lagi pula aku tidak suka kalah. Dalam waktu tiga hari, aku yakin kau akan kembali ke Seoul.”

Sehun begitu percaya diri dengan ucapannya.

Tanpa sadar tubuh ini gemetar, takut dengan rencana yang ia buat. Sehun tak berubah, aku yakin ia tetap menganggap hubungan kami sebagai sebuah permainan yang harus ia menangkan.

Sial Sehun sialan!

“Bagaimana harimu? Apa menyenangkan?” Tanya Chanyeol saat aku memasuki kafenya yang akan tutup.

Baru pukul delapan malam, kakakku sudah membereskan kursi. Kafe Chanyeol ini memang berbeda karena memiliki jam tutup lebih awal. Dia menyesuaikan jadwalku pulang dari studio balet. Bukan tanpa sebab, Chanyeol hanya takut meninggalkan aku sendirian di apartemen. Pria yang lebih sering bertengkar denganku karena hal-hal kecil tersebut pun pernah menemukan diriku yang hampir mati karena percobaan bunuh diri. Kejadian itu sudah lama sekali, awal aku tinggal di Swiss. Kini kondisi jiwaku sudah lumayan stabil, paling tidak aku hanya merasa tertekan jika melihat sesuatu yang mengingatkan aku tentang bayiku.

Aku cukup berterima kasih pada Kris, dia sering mengajakku berlibur. Untung menghilangkan depresiku. Libur yang kumaksud adalah berkunjung ke beberapa panti asuhan, melihat bayi dan anak-anak yang ada di sana. Aku bisa mengatasi kesedihanku dengan bermain bersama anak-anak. Aku tidak menangis lagi saat melihat bayi yang baru lahir, awalnya aku sungguhan bertingkah gila ketika melihat bayi―aku bisa langsung menyakiti diriku sendiri. Hal itu dipicu oleh alam bawah sadarku yang menyatakan bahwa aku tidak bisa menjadi ibu yang baik. Aku menyalahkan diri sendiri, meskipun Sehun punya peran besar dalam kematian bayi kami.

Aku berusaha memaafkannya. Chanyeol berulang kali mengatakan bahwa yang terjadi di antara aku dan Sehun adalah kesalahpahaman yang besar. Sehun mengira aku menggunakan bayiku untuk mengambil keuntungan darinya. Sikap itu diawali oleh trauma masa lalunya ketika Aubrey―aku memilih pergi dari Sehun. Sehun percaya bahwa aku yang menyebabkan bayinya meninggal.

Rumit. Kepalaku langsung sakit apabila bercerita kembali mengenai kisah hidupku.

“Kau melamun lagi,” Chanyeol bercelatuk. Telapak tangannya sudah ada di keningku. “Apa kau sakit?” Dia berujar kembali.

Aku menepis tangannya, kemudian cemberut. “Sehun membuatku marah hari ini,” aku pun membalas.

Chanyeol tersenyum. “Responsmu terhadap Sehun di luar dugaanku,” gumam Chanyeol. Dia bersandar di nakas barista, tepat berada di hadapanku. “Aku kira kau akan menangis dan emosimu meledak-ledak. Ternyata, kau lebih terlihat hidup setelah bertemu dengannya. Jung Nara bisa cemberut, tersenyum, dan marah. Sebelum Sehun datang kau memang mengeluarkan ekspresi, namun terkesan palsu,” jelas Chanyeol.

Chanyeol benar. Aku seolah melepaskan topengku setelah aku melihat Sehun kembali. Aku tidak berpura-pura.

“Aku merindukannya,” ucapanku meluncur begitu saja. Aku menengadah untuk melihat rupa kakakku. “Tapi, dia telah membuatku kehilangan bayiku―aku bahkan tidak bisa mengandung lagi. Aku tidak sempurna. Itu alasan yang cukup untuk membencinya. Namun, kenapa rasanya sulit sekali?” aku berkata pelan, dadaku sesak.

Ini terlalu sulit, harus membenci orang yang kucintai.

“Bagaimana jika Sehun bisa memperbaiki keadaan?” Ujar Chanyeol. Dia mengeluarkan ponselnya, lalu menyerahkannya padaku.

Aku menerimanya dengan bingung, ada foto seorang anak perempuan kira-kira usianya empat atau lima tahun. Aku … seolah membeku melihat potretnya. Gadis kecil itu tersenyum pada kamera.

Dia … wajahnya tak asing.

“Dia sangat mirip denganmu ketika kau masih anak-anak, Nara. Aku bahkan menyandingkan fotomu sewaktu balita―“

“―Dia mempunyai warna pupil serupa milik Sehun. Dia juga tersenyum seperti Sehun,” aku memotong. Aku lantas berdiri dari kursi. Aku mencengkeram Chanyeol, menuntut penjelasan. “Siapa dia?” Suaraku bergetar. Ada berbagai dugaan yang tersimpan dalam pikiran ini.

Chanyeol tersenyum. “Carys Oh, Sehun mengadopsinya dari keluarga Kim―ibu tirimu dua tahun lalu,” jawab Chanyeol.
Jantungku berhenti.

Tidak mungkin.

Tanpa kusadari satu-persatu air mataku turun. Aku menangis karena melihat foto anak perempuan yang tidak kutahu siapa.

Satu-satunya pertanyaan yang bisa kuutarakan, “Kenapa Sehun mengadopsinya?”

Chanyeol menatapku iba. “Aku tidak berhak menjelaskan apa pun, Nara. Aku hanya ingin kau tahu jika, diriku membiarkannya tetap berada di dekatmu bukan tanpa alasan, dia memiliki hal yang bisa membuatmu bahagia lagi,” Chanyeol mengulangi.

Aku berbalik cepat, “Aku harus menemuinya.”

Chanyeol menarik tanganku. “Sehun sudah kembali ke Seoul. Penerbangannya satu jam lalu,” jelas Chanyeol. “Dia memintaku untuk menyampaikan padamu, jika kau ingin mengetahui kebenarannya pulanglah.”
Aku langsung terduduk lemas. Aku menangis sejadi-jadinya.

“Licik,” aku bergumam dalam seduku
Bagaimana kebenarannya?

Apa bayi Aubree―bayiku tidak meninggal?

Jika benar, kenapa Sehun baru mengadopsinya?

Kenapa Ibu angkatku menyembunyikannya?

Apa karena hak waris itu?

Aku sungguh tidak peduli dengan kekayaan yang mereka perebutkan, aku hanya meminta penjelasan atas Carys.

Tidak ada satu pun ingatan mengenai Carys.

Aku benar-benar tidak pantas menjadi seorang ibu.

Bagaimana bisa aku melupakan putriku sendiri?

-oOo-

Hai, terima kasih sudah baca. Aku harap kalian menikmati ceritanya. Maaf karena belakangan ini jarang update. Menemukan mood yang tepat di tengah kesibukan itu susah huhuhu.

Oh ya, part ini masih berhubungan dengan semua special part, jadi silahkan baca special part dulu ya <3.

Okay, bagi temen-temen yang pengen fangirling bareng atau sekedar chit-chat bisa follow twitterku @twelveblossom

Advertisements

75 thoughts on “Love Madness: I Will Spend My Whole Life Loving You

  1. elyazuna says:

    Oh jadi ini alasan Chanyeol biarin Nara terus bareng Sehun. Padahal nyata nyata Chanyeol tau Nara hancur kalo bersama Sehun.

  2. June says:

    Tiap baca bagian nara kenapa aku ngerasain banget feelnya kenapa oh kenapa….(?) :”)) Semangat terus ka nulisnya

  3. Leyna cullen says:

    Wow……ceritanya GX BSA d tebak…..Daebak eonni…….
    Semoga saja memang carys anak nya aubree

  4. oohndhra94 says:

    gila ya sehun otaknya tuh bikin greget bgt si sampe bisa bikin nara tuh jadi kyk gini emng pd dsrnya pria brengsek dengan hati licik tuh gini ya dan trs siapa adik kecil itu:(((

  5. Naeli Ahadi says:

    Tuh kannnn! Sehun selalu menang dari Nara.. ga ngerti lagi dan ga mau nebak2 itu anak mereka atau bukan, pokoknya aku mau mereka bahagia❤❤

  6. baekkyu says:

    Kak, sungguh!! Dibuat penasaran pas penasaran itu gregetnya minta ampooon😥😥 Kasian Nara harus nunggu part berikutnya biar tahu penjelasan Carys😶 Kutunggu kak, kutunggu selalu tulisanmu ini, semangat terus ya kak!!!

  7. aryanahchoi says:

    cerita yg paling gx bisa ketebak itu semua cerita mu eon👍 walaupun ending nya happy or sad tpi pertengahan cerita ada cerita yg gx bisa ketebak kyk part ini

    nara dulu punya anak ma sehun? wow di luar prediksi salahin nara ya karena amnesia😁

  8. Kyungsa says:

    Gilasih ini lanjutannya, si nara uda punya anak coba. Dan blm moveon jga dri sehun. Semogaa aja happy ending, dan masih dukung jga nara sama sehun. Semangat truss kak pokoknya💪💪

  9. Bingkai Fatamorgana says:

    astagaa sehun segitu mudahnya ya buang duit (?) wkwk
    etapi ini seriusan anaknya aubree nggk meninggal?
    berarti dlu waktu kecelakaan udh besar dong perutnya 🤔

    btw aku penasaraann… kan dlu waktu adegan penembakan itu di sebutkan kalau dada nara yang panas dan sakit.
    tp di part selanjutnya ternyata perutnya yang ketembak. then aku bingung 😂

  10. Yeolgi says:

    Omaygaattt babynya Nara masih hidup? 😭😭😭
    Lemah akutuu.. Gakuat liat Nara sedih terus😭

    Gakuat juga nunggu next chapter. Semangat terus nulisnya ka! 💛✨

  11. Choqah says:

    Uwaa i cant talk anymore. You always making a brilliant story. I love that so much. Aku ga rela kalau kakak bilang tidak akan menulis lagi. Padahal aku udah jatuh cinta sama tulisanmu

  12. Fazriyah53 says:

    Jadi sebenernya bayinua aubree ga meninggal
    Aaa ini greget bangettt nara-sehun balik lagi doonggg
    Aku siap aku siap untuk next partnya hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s