Love Madness: The Best Part

LOVE MADNESS 2

Previous: 

Moonlight In The Darkness – An Affair To Forget – Don’t Mess Up With Me – The Craziest Thing  – All Of Me Want All of You – The Danger of Desire – [Special Part] Love Madness: The Rewind Story About Us – The Hidden World  – Lost Your Mind – Mine to Possess – It’s Love With Benefit –The Heartless Devil – [Special Part] The Death of The Heart – [Special Part] His Mind – I Will Spend My Whole Life Loving You

“Badai Tuan telah berlalu. Salahkah ku menuntut mesra? Tiap pagi menjelang kau di sampingku. Kuaman ada bersamamu.” ―Sampai Jadi Debu, Banda Neira

-oOo-

Chanyeol menemaniku kembali ke Seoul pada esok harinya. Dia memesan penerbangan paling pagi. Sebenarnya, aku bisa pergi sendiri ke Seoul tapi Chanyeol terlampau sensitif jika berjauhan denganku. Menurutnya, aku ini seperti bom yang bisa meledak sewaktu-waktu. Aku dapat menghancurkan diri sendiri sekaligus orang-orang yang berada di sekitarku. Dengan adanya Chanyeol di sisiku, dia bisa mencegah apa pun yang akan terjadi. 

Tampaknya ada beberapa hal yang membuatku terkejut ketika sampai di Korea. Kejutan pertama kudapatkan dari gadis muda yang menjemputku di bandara. Raeadik angkatku yang paling muda. Dia sudah melambai ke arah kami, Rae mengenakan gaun selutut berwarna kuningsenyumnya sangat cerah dan cantik seperti biasanya. Rae melangkah cepat ke arahku dan Chanyeol, aku sudah siap merentangkan tangan untuk memeluknya karena hampir dua tahun kami tidak bertemu. Kendati demikian, gadis kecil yang sekarang telah beranjak dewasa itu justru memeluk erat Chanyeol. Bibirku langsung terbuka beberapa inci sangking terkejutnya.

Aku masih mengingat jelas, Rae dan Chanyeol hanya beriteraksi beberapa kaliitu pun mereka selalu terlibat pertengkaran. Aku mundur satu langkah ketika Chanyeol mengusap surai Rae yang digerai dan mengecup puncak kepalanya.

Aku refleks menarik adikku. Nakuriku sebagai seorang kakak muncul sebab aku tahu jika Chanyeol dan Sehun tidak berbeda jauh. Mereka sama-sama berengsek.

“Kau berkencan dengan adikku,” ucapanku melengking. Aku tidak sadar apabila suaraku bisa setinggi itu.

Chanyeol menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Dia anak yang baik

Rae masih terlalu muda,” aku memotongnya dengan galak. 

Rae melepaskan tanganku yang mencengkramnya. Dia memberengut. “Chanyeol akan menjagaku,” bela Rae.

Aku membolakan mata. “Jangan percaya dengan ucapan pria hidung belang sepertinya,” aku menuding Chanyeol.

“Nara, aku kakakmu. Kau memberikan julukan negatif pada kakak kandungmu?!” Chanyeol mengeluh dengan sangat putus asa.

Aku berdecak. “Kau memang kakakku tapi Rae juga adikku. Jangan macam-macam padanya, dilarang berdekatan. Mundur dua langkah,” Aku mulai memerintah.

Rae berkacak pinggang. “Serius, apa kau akan mengurusi hubungan kami sementara kau sendiri terlihat sangat berantakan?” Cecar Rae padaku.

Aku meamang tidak terlihat cantik sama sekali. Aku bahkan belum sempat mandi. Ah, itu tidak penting.

“Aku harus segera bertemu dengan Sehun,” aku berkata.

Rae menggelengkan kepala. “Kau mirip seperti pecundang. Kita harus memperbaiki dirimu, baru boleh bertemu Sehun. Aku tidak ingin Sehun menyesal sudah menunggumu lama, sementara banyak wanita di luar sana yang sangat mengiginkannya,” oceh Rae.

Rae menarikku, tanpa menunggu pembelaan dariku. Aku berusaha meminta tolong pada Chanyeol namun, pria tua itu hanya tersenyum kegirangan. 

“Ini terlalu berlebihan, Rae,” aku mengeluarkan protes ketika Rae menunjukkan sebuah gaun hitam berpotongan rendah. “Aku hanya akan menemui Oh Sehun bukannya mau berpesta,” imbuhku, barang kali Rae lupa tujuan awal kakaknya datang ke Seoul.

Rae memutar bola mata. “Kau akan berpesta, kakakku sayang. Aku sudah menyusun rencana dengan Chanyeol soal kehadiranmu di pesta ulang tahun perusahan Sehun. Kau harus menunjukkan eksistensi diri, menyatakan bahwa istri Sehun yang diberitakan menghilang sudah berada di sisinya lagi. Kau pasti juga merindukan gaun-gaun cantik ini,” Rae mengoceh sembari berayun menunjukkan gaun mahal itu.

Aku memang rindu mengenakan barang-barang berkelas. Aku bisa merasakan gaun itu akan sangat pas melekat pada tubuhku.

Tidak, fokus Nara.

“Aku menolak. Aku tidak berniat kembali bersama mantan suamiku

Kau memerlukan akses untuk bisa bicara dengan mantan suamimu itu. Kalau kau lupa, Sehun bukan orang sembarangan yang bisa kau ajak mengobrol. Ada banyak orang yang dibayar untuk menjaganya,” sela Rae tidak sabar.

“Sehun akan langsung datang padaku jika aku yang memintanya,” aku berkata dengan penuh percaya diri. Bukannya aku membual tapi pria itu memang sudah takluk padaku, aku yakin Sehun masih sangat menginginkan diriku.

Rae tertawa mengejek. “Kau bukan lagi satu-satunya perempuan yang menjadi prioritasnya,” ungkap Rae. Dia menyerahkan gaun itu padaku. “Aku bisa melihat mantan suamimu jatuh cinta lagi,” sambungnya.

Aku diam, sibuk memadamkan hatiku yang terbakar. 

Aku bukan lagi prioritas Sehun.

Aku bukan satu-satunya bagi dirinya.

Kenapa rasanya begitu berat mendengarnya?

Aku hampir percaya dengan ucapan Rae saat menginjakkan kaki di pesta ini. Aku sedang berada di salah satu hotel yang sengaja dipesan untuk mengadakan pesta ulang tahun perusahaan Keluarga Oh. Aku tidak perlu mendeskripsikan area yang kini dipijak oleh kakiku, semuanya bertebar kemewahan. Bahkan orang-orang yang datang kemari mengenakan pakaian terbaiknya.

Aku sedikit berterima kasih pada adikku sebab dia tidak membiarkanku memakai baju pengemisku tadi siang. Luar biasanya lagi, Rae merelakan untuk tidak datang ke pesta ini. Ia memberikan undangan VVIP yang didapatkannya. Padahal, tempat ini adalah langkah awal yang tepat untuk membangun koneksi. Semua orang yang datang ialah para profesional dan penguasa dalam berbagai bidang.

Aku tak asing dengan beberapa orang. Aku dulu pernah berjumps mereka ketika masih menjadi putri angkat Keluarga Kim. Ada juga CEO dari perusahaan yang merupakan teman Sehun, aku sempat menemui mereka ketika menemani mantan suamiku perjalan bisnis. Mereka yang mengenaliku pun memberikan salam yang hangat. Namun, ada gadis-gadis muda yang tampak tak senang dengan kehadiranku.

Aku mendengar mereka berbisik, “Bukannya mereka sudah berpisah untuk apa wanita itu datang kemari.”

Ada juga yang menyahut, “Mungkin dia sedang mengemis belas kasihan dari Tuan Oh.”

Bahkan gadis yang memakai gaun biru tua pun sengaja membesarkan volume suaranya, “Padahal aku berencana untuk berbincang dengan Oh Sehun dan membuatnya menyukaiku.”

Aku memejamkan mataku sebentar, lalu menarik napas dalam-dalam. Aku mengeratkan pegangan tanganku di lengan Chanyeol. Kami berjalan bersisihan, menysuri tengah gedung untuk menuju posisi paling depan. Rasanya perjalanan ini terlalu berat.

Aku fokus pada seseorang yang berada jauh di sana. Sehun dengan jas hitamnya dan celana kain, potongan surainya rapi, dan dia rupawan. Pria yang menjadi pusat dari duniaku sedang tersenyum simpul, berbincang bersama koleganya. Tangan Sehun memegang gelas kristal yang berisi wine. Dia menarik perhatianku, sanggup membuatku melupakan berbagai persepsi buruk yang ditujukan padaku.

Hatiku berdebar. Sehun mempunyai aura yang berbeda malam ini, dia lebih berkharisma. Ia sangat mengintinidasi.

Aku menghentikan langkahku.

“Ada apa Nara?” Chanyeol berkata. Ia menatap parasku sekilas.

Aku yakin ada kegelisahan dalam ekspresi ini.

“Aku gugup,” ucapanku lebih seperti bisikan.

Chanyeol menautkan alis. “Dia hanya Sehun,” balasnya.

“Pria yang kucintai dan kubenci,” aku bergumam. Aku mendongakkan kepala agar Chanyeol bisa melihat mataku. “Apa kita bisa pergi dari sini?” Tanyaku.

“Apa kau tidak ingin tahu mengenai Carys?” Dia ganti bertanya.

Aku menggigit bibir. Aku bimbang. Bagaimana jika Sehun enggan bicara padaku dan justru mempermalukanku di depan umum? Dia serupa bintang yang tak bisa kuraih sekarang. 

“Aku takut Sehun mengabaikanku. Aku sudah bersikap jahat padanya sewaktu di Swiss,” aku mengakui kecemasanku.

Chanyeol mengusap punggungku beberapa kali. Dia menenangkan. “Aku mempertaruhkan nyawaku dia akan memperlakukanmu dengan sangat baik,” Chanyeol menyakinkan, kemudian dia menarikku pelan agar tetap berjalan.

Beberapa meter dari tempat Sehun berdiri, asisten Sehun menyambut kami. Dia tersenyum padaku. Ramah seperti biasanya.

“Nona Jung, Saya akan menyampaikan kedatangan Anda pada Tuan Oh,” ucapnya lalu berbalik menuju Sehun.

Sehun langsung memutus perbincangannya dengan rekan bisnisnya saat sekretarisnya mengabarkan kehadiranku. Netra Sehun yang tajam langsung menatapku, wajahnya memberikan ekspresi dingin. Sehun tampak mengangguk pada Chanyeol.

“Sehun ingin aku pergi,” kata Chanyeol. 

Aku mencengkeram tangan kakakku, meminta perlindungan, “Jangan tinggalkan aku,” ucapku panik.

Chanyeol tersenyum. “Tidak apa-apa, Nara. Pengawal yang ada di sini ialah orang-orangku, mereka langsung bertindak jika Sehun membahayakan dirimu.”

Aku masih berat hati ketika Chanyeol sungguhan meninggalkanku di tengah kebisingan pesta ini. Aku mirip anak ayam yang kehilangan induknya. Aku ingin menangis rasanya.

Ayolah Jung Nara, kau terlalu tua untuk bertingkah kekanakan―batinku menyakinkan.

Aku bertambah gugup ketika Sehun mulai berjalan ke arahku. Dia menjadikan pesta ini seperti pertunjukkan catwalk. Kenapa ada seseorang yang bisa terlihat menawan saat berjalan? 

Sehun semakin mengikis spasi. Dia berada dalam jangkauanku.

Rasa marahku kepadanya kini meluruh sempurna digantikan oleh kerinduan. Dua tahun aku tak bisa menatapnya langsung.

“Nara,” suara beratnya menyapaku.

Aku masih sibuk mencium parfum maskulinnya. Aku menghirup banyak-banyak. 

Aku belum sadar sepenuhnya ketika Sehun melancarkan manuver berikutnya. Dia meraih jari-jariku, mengecupnya sebentar kemudian menggenggamnya. Sementara tangannya yang lain membelai paras ini. 

Astaga, apa dia sedang beradegan drama?

Mata semua orang sungguhan tertuju kepada kami.

“Nara, kendalikan ekspresimu,” bisik Sehun tepat pada indra pendengaranku.

Sehun menarik pinggangku agar kami dapat berjalan bersisihan. Aku masih pasrah tak berdaya menjadi Jung Nara si Penurut.

“Kau akan membawaku ke mana?” Tanyaku saat kami melewati meja untuk tamu.

“Duduk paling depan agar kau dapat melihatku saat presentasi,” jawabnya.

Sehun memberikan tempat duduknya untukku. Area yang dikhususkan untuk dewan direksi ini tentu membuatku semakin tertekan. Sehun memerkenalkan diriku pada setiap direktur cabang perusahaannya, seolah aku ini masih istrinya. 

Parahnya lagi ketika Sehun maju sebagai pemilik dari segalanya. Ia memulai presentasinya dengan ucapan terima kasih yang sama sekali tidak terduga.

“Saya berterima kasih kepada istri saya yang telah merelakan banyak hal untuk tetap berada di samping saya,” ujarnya yang mendapatkan tepukan tangan dari orang-orang. “Saya bisa tetap waras karena dia,” kelakarnya, diimbuhi tawa mereka.

Aku membiarkan ekspresi terkejut memenuhi wajahku. Aku merasa dipermainkan.

Aku seharusnya marah, aku bukan lagi istrinya.

Kenapa dia dengan begitu mudah mengklaim diriku masih menjadi miliknya?

Jelas-jelas kami bercerai.

Aku menunggu penjelasannya.

“Kau membuatku tampak buruk. Aku bukan istrimu lagi,” ujarku saat pesta berakhir.

Sehun membawaku ke rooftop garden agar kami bisa bicara tanpa didengar orang lain.

Sehun yang berada di hadapanku memberikan ekspresi kecewa. “Apa berada di sampingku benar-benar terasa seburuk itu?”

“Iya,” jawabku, aku mengalihkan muka.

Aku mendengar Sehun menarik napas. “Maaf sudah membuatmu merasa tidak nyaman,” ucapnya.

Aku terkejut sebab seorang Oh Sehun tidak pernah semudah itu meminta maaf. “Aku tidak ingin berbasa-basi,” aku mengungkit satu topik yang memaksaku kembali ke Seoul. “Aku ingin bertemu Carys,” aku merasakan kegetiran saat berucap.

Sinar mata Sehun yang awalnya hampa pun berkata lain, pria itu tampak tertarik mendengar nama Carys. Carys seolah menjadi pemicu atas emosi pria ini. 

“Banyak orang yang tertarik padanya. Kau orang kesekian yang menginginkannya. Dia menjadi putriku secara hukum

Aku yang melahirkannya,” aku menyela. Aku memang tidak yakin, tapi pikiranku masih bisa menduga. Aku tak dapat mengabaikan kemiripan Carys dengan aku dan Sehun.

Sehun tertawa. “Kau melahirkannya? Kau bahkan tidak mengingatnya,” katanya. 

Aku melihat tangan Sehun mengepal sempurna. Dia menahan kemurkaan.

Aku tak dapat menjawab. Pria ini berkata benar. Aku hanya memberikan argumen palsu, tak ada jejak dalam kenangan ini mengenai Carys. Jika Carys memang putriku, aku sungguh bukan ibu yang baik. Ada berbagai pernyataan yang berteriak dalam benak. Setiap kata menusukku, kepala ini menjadi berat.

Ragaku lemas. Aku tak boleh kehilangan kendali, aku enggan kehilangan akal sehat di sini. Aku menolak menjadi gila di hadapannya.

Sehun tampaknya tahu keadaanku. Dia menangkap tubuhku yang gemetar.

Aku menatapnya. “Akuaku mohon, jelaskan padaku,” aku berucap sembari tersengal, nafasku berat. “Aku ingin mengingatnya, berikan aku kesempatan, Sehun.”

Sehun mengeratkan pelukannya padaku. “Carys adalah bayi Aubree dan Willkita, ibu angkatmu menyembunyikannya dari kita agar kau tetap menjadi Nara yang tak mempunyai apa pun,” jawaban Sehun menjadi akhir perbincangan kami.

Aku tersesat kembali. Kenyataan yang dulu mulai bisa kuterima kini menyakiti diriku lagi. Aku berulang kali memaksa pikiranku agar menerima kenyataan jika Carys adalah putriku. Meskipun, Aku hanya dapat memandanginya dari jauh.

Sehun menunjukkan Carys padaku. Gadis kecil berusia empat tahun tersebut tinggal di salah satu rumah Oh Sehun. Aku mengawasi Carys yang sedang bermain bersama Sehun di halaman depan rumah itu. Mereka terlihat bahagia, Sehun yang dingin bisa begitu mencair ketika Carys berada di dekatnya.

Aku terpana akan sikap mereka yang terlihat saling menyayangi. Aku terkejut akan respons Carys yang begitu senang ketika Sehun datang menemuinya, gadis kecil itu berlari ke arah ayahnya.  Aku mengamati mereka dari mobil. Aku enggan turun, aku masih menata diriku. 

“Aku menemukannya karena Jongin. Dia tahu jika kau tidak bisa melahirkan,” itu ucapan Sehun ketika menjelaskan mengenai pertemuannya dengan Carys. “Carys yang membuatku tetap bertahan selama dua tahun ini. Aku tidak pernah membayangkan bahwa ada sebagian diriku dan dirimu pada Carys. Dia membuatku merasakan sesuatu yang belum pernah ada dalam pikiran ini, Nara. Carys menjadikan aku seorang ayah.” Perkataan Sehun lantas menyentuh hatiku.

“Kenapa kau tak mengatakannya lebih awal bahwa bayi kita tak meninggal?” Aku memertanyakan keputusan Sehun.

Sehun hanya menatapku hambar. “Aku takut membuatmu terluka lagi. Kondisi psikologismu masih belum stabil waktu itu, Nara. Aku khawatir respons yang akan kau berikan kepada Carys,” jawabnya. 

Cara Sehun menyebutkan nama Carys dan caranya bersikap protektif pada gadis kecil itu … aku tak menyangka seorang Oh Sehun dapat bersikap selembut ini. Dengan jelas, ia berusaha menyingkirkan apa pun yang dapat membahayakan Carys, termasuk akukewarasanku yang tidak stabil.

Aku memang berupaya bunuh diri beberapa kali. Menyakiti diri hingga sekarat. Tak hanya itu, aku sempat menyerang orang lain yang membuatku marah. Semua hal tersebut yang menyakinkannya untuk menjauhkan aku dari Carys.

“Nara, sampai kapan kau hanya memandangi mereka?” Tanya Chanyeol yang berada di kursi kemudi.

Dia menghapus lamunanku. Perhatian ini kuberikan padanya.

“Aku takut merusak kebahagian mereka,” jawabku jujur.

Aku tak ingin menghapus senyum Carys dengan keberadaanku. Aku enggan kehangatan Sehun pudar hanya karena aku.

“Tapi, kau bagian dari kebahagian mereka,” balas Chanyeol. Dia memberikam remasan lembut pada bahuku. “Kau seharusnya berada di tengah merekaitu lah tempamu,” lanjutnya.

“Bagaimana jika aku kehilangan kendali kemudian justru memberikan kemurkaan pada gadis kecil itu?” Aku menuntut jawaban.

“Sehun tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi, dia punya segala kuasa,” balasnya. 

Chanyeol keluar dari mobil. Dia membukakan pintu untukku. Netraku beralih dari Chanyeol pada Sehun. Pria yang kucintai tersebut menghentikan permainannya dengan Carys, dia lekas menggendong putrinya. Mata tajam Sehun menatapku, dia menunggu. 

Hatiku tetap berdebar keras.

Aku mencengkeram ujung gaun biru tua yang kini kukenakan. Kelopak mata ini bergerak ragu. 

Aku bisa mendapati tatapan bertanya dari Carys ketika diriku keluar dari Audi hitam ini. Mungkin karena pandangan Sehun yang tak lepas dariku. Carys ingin tahu, siapa wanita yang bisa menyita perhatian ayahnya sedemikian banyak?

Aku tak kunjung melangkah mendekat.

Kakiku beku.

Aku memejamkan mata. Ini adalah momen terbaik dalam hidupku. Aku menemui dua orang yang paling berharga dalam hidupku.

“Aku tak bisa melakukan ini,” gumamku.

Aku menggeleng pada Chanyeol.

Kakakku tidak merespons.

Sehun yang bergerak terlebih dahulu. Pria menawan tersebut melangkah mendekatiku dengan Carys yang berada dalam pelukannya. Carys yang cantik, putriku. Surainya diikat dua, warnanya hitam sepekat arang. Pipinya merah muda dan kulitnya putih susu, sangat manis seperti milik Sehun. Tangan kecil Carys mengalung sempurna di leher ayahnya. Beberapa kali, aku melihat Carys berbisik pada Sehun. Aku yakin bibir lucu Carys sedang bertanya-tanya.

Aku adalah wanita asing bagi darah dagingku sendiri. Sama halnya seperti dirinya, bagiku Carys adalah hal baru. Sesuatu yang membuat hati ini meledak karena bahagia.

Chanyeol menyingkir ketika Sehun dan Carys semakin mendekat. Aku mengamati setiap detail Carys, gaun merah muda yang dikenakan gadisku sangat menarik. Aku memegangi dadaku yang sesak ketika mendapati kemiripan kami. 

“Jung Nara,” panggil Sehun yang begitu dekat.

Aku suka cara Sehun menyebutkan namaku, seakan aku ialah satu-satunya dalam dunianya.

Aku tak bisa menimpali sebab keajaiban selanjutnya sungguh di luar dugaanku.

Tangan kecil Carys meraih pipiku. Begitu lembut dan hangat. Wanginya harum. 

Suara lucu itu pun berucap padaku, “Ibu sudah pulang.”

Ini tidak adil, ternyata aku bukan wanita asing di mata gadisku.

Aku menangis hanya karena satu kalimat dari bibirnya. Pertama kalinya dalam hidupku, aku tersedu karena terlalu bahagia.

-oOo-

Hai, aku nulis ini sambil mendengarkan lagu Banda Neira yang Sampai Jadi Debu. Menurutku lagu itu cocok banget sama part ini. Semoga kalian masih ngikutim cerita ini dan gak bosen ya. Terima kasih sudah membaca. Aku tunggu pendapat kalian mngenai momen Nara ketemu Carys.

Oh ya, mau milih sad ending atau happy ending nih?  Hahahaha.

P.s: untuk bocoran cerita bisa follow aku di twitter @twelveblossom.

 

Ayo, ketemu Carys!

Screenshot_20190418-125919_InstagramScreenshot_20190418-125800_InstagramScreenshot_20190418-130049_InstagramScreenshot_20190421-121803_Instagram

Advertisements

108 thoughts on “Love Madness: The Best Part

  1. Defitribp says:

    Sungguh cerita ini menguras emosiku. Feelnya ngena bgt, terharu bgt pas part akhirr. Makasih udh buat karya bagus ini kakak🙏

  2. khurulain61 says:

    Wah aku maraton banget bacanya.sengaja ku simpan dulu ceritanya sampe chapter terakhir takut buat penasaran + geregetan seperti biasa wkwk ,berhubung aku gabut banget semalam jadi kusempetin baca deh😂😂 daan udah sampe chapter ini.fix sih ini cerita bikin org yg baca kaya naik roller coaster 😌 semoga sehun nara balikan :((

  3. alea says:

    huh aku baru baca part ini sedih nyampur bahagia jadi satu aku senengg 😭 ga ngerti lagi suka banget
    carsy juga lucu bangett🥰

  4. Jean says:

    Seneng akhirnya ada kebahagiaan yang bisa buat nara bertahan hidup dan mungkin mengukir kisah baru yang bahagia

    • dxnws says:

      lega sekali nara bisa bahagia, setelah jalan panjaaaang, sehun apalagi, setelah kelabilannya akhirnya bisa bahagia, u,u makaseeee, dapet sekali feelnyaaa

  5. hartikasyifa says:

    mau nangis ajaa, website yang selalu aku tunggu tunggu buat update. jujur jarang comment tapi sangat menikmati ceritanyaaa.
    carys lucu bangettt huhuhuu, i need happy endingggg

  6. Rumski says:

    Heyhalloooo masa udah begini masih ditanya mau sad ato happy ending, happy dong kaakkk, jangan biarkan jiwa2 ini bergejolak huhu

  7. Yeolgi says:

    Happy ending pliiissss😭
    Aku mau liat keluarga kecil ini bahagiaaa, aku mau liat Carys main2 sama ibunyaaa😭💗
    Gakuaattt Carys lucu banget gumush!

    Ayo ka tis, semangat terus nulisnya! Kutunggu next part✨

  8. Naeli Ahadi says:

    Ga tega kalo sad ending😢 carys lucu bangetttt.. tinggal dikit lagi, semoga happy ending 😍 semangat terus buat kak tis💕

  9. Moliii says:

    Carys lucuu banget pengen bawa plg hihi
    Terharu aku bacanya. Semoga nara sm sehun happy ending biar Carys bahagia sm kedua org tua yg ditunggu2 nya huhu

  10. aryanahchoi says:

    carys lucu😊 ihhhh ternyata carys kenal ma ibunya btw apa sehun yg sudah kasih tahu dari awal klo ibunya carys itu nara???

    ihhhhh gue gemes😳 kira2 nara n sehun bkl bersatu gx ya?
    harus thanks for carys nih

  11. bubblewip says:

    Ya Allah ya goddd no doubt ka happy ending bae :”))) ado gasabar sama kelanjutannya aaaa 🥰🥰🥰 semangat ka buat nuntasin ceritanyaaa di tunggu part selanjutnya eheeeee ❤🧡💛💚💙💜🖤

  12. RainCloudz says:

    OMG……..carys nya lucu bgtz……
    part yg buat sedih tu waktu carys nya pegang pipi nya nara dan bilang” Ibu sudah pulang”
    tadi nya berpikir mungkin lebih baik klo nara sama sehun tu pisah . Tapi setelah baca part ini semoga bisa happy ending dan mereka tu bersatu jadi keluarga .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s