Love Madness: Truly Madly Fall For You

LOVE MADNESS 2

Previous: 

Moonlight In The Darkness – An Affair To Forget – Don’t Mess Up With Me – The Craziest Thing  – All Of Me Want All of You – The Danger of Desire – [Special Part] Love Madness: The Rewind Story About Us – The Hidden World  – Lost Your Mind – Mine to Possess – It’s Love With Benefit –The Heartless Devil – [Special Part] The Death of The Heart – [Special Part] His Mind – I Will Spend My Whole Life Loving You –  The Best Part

“Tell me everything, I’ll listen to the story from a part of your heart.” ―Maybe (Ost Her Private Life), Lee Haeri

-oOo-

Aku awalnya tidak mengira jika manusia bisa bersikap kejam. Keonaran yang mereka buat dapat mengubah takdir seseorang. Bahkan, tanpa rasa bersalah menambah kebohongan lain untuk menyempurnakan tipu muslihatnya.

Ibu angkatku―yang aku kira tak turut andil dalam permainan ini ternyata memiliki peran besar. Ia menyembunyikan bayi yang telah kulahirkan. Semuanya tertutup dengan sangat rapi karena ingatanku yang lenyap akibat kecelakaan. Seolah alam semesta mendukungnya―memisahkan kami. Andai saja Sehun menyerah begitu saja, selamanya aku tak akan mengetahui keberadaan putriku.

Sehun dengan mudahnya menggunakan kekuasaannya untuk mengenyahkan Keluarga Kim. Aku tak berusaha mencegah, bukan urusanku. Aku juga ingin mereka menderita sama sepertiku. Aku enggan mendengar nama mereka berdengung lagi. Bukannya aku tak tahu balas budi, tapi sikap mereka tidak lah pantas untuk dimaafkan.

“Apa kau baik-baik saja, Nara?” tanya Sehun ketika kami memasuki rumahnya.

Sehun memintaku duduk menenangkan diri setelah pertemuan dramatis dengan Carys. Aku tak dapat berhenti tersedu, hal itu membuat Carys ikut menangis. Keributan luar biasa terjadi karena Sehun berusaha menenangkan diriku dan Carys. Dia tampak kebingungan sebelum memutuskan untuk meminta pengasuh Carys membawa gadis kecilku pergi.

“Tidak,” aku menjawabnya sambil menggeleng. “Hatiku rasanya ingin meledak karena begitu senang,” lanjutku.

Aku dapat melihat perubahan ekspresi Sehun yang awalnya cemas menjadi tersenyum lembut. Pria tampan yang telah menjadi mantan suamiku itu mendekat lalu menarik tubuh ini ke dalam pelukan.

Bodohnya, aku sama sekali tidak menolak. Ini terlalu hangat, aku tak ingin melepaskan.

Sehun mengusap beberapa kali punggungku. Sentuhannya adalah kejutan yang menyenangkan.

“Aku tahu, aku juga merasakan hal yang sama ketika pertama kali bertemu dengan Carys,” ungkapnya.

Aku berusaha menarik nafasku yang sesak. Aku sungguh belum bisa mengontrol perasaan bahagia ini. Harapan yang menjadi nyata. Aku yang bermimpi memiliki seorang anak setelah semua kejadian menyedihkan itu.

“Kenapa kau tidak segera memberitahuku?” aku menuntut.

Sehun melonggarkan kungkungan. Ada rasa kecewa yang menjalar ketika Sehun membuat spasi di antara kami. Dia kembali melihatku. Mata itu, memberikan tatapan duka yang jelas. Sekali lagi, aku ingin menghapus kesedihan darinya.

Jatuh cinta membuatku bodoh. Aku tetap menginginkan Sehun hidup dengan baik, meskipun dia menyakitiku berulang kali. Kenapa selalu ada tempat di dalam hatiku untuknya?

Bahkan rasa ini, tak pernah berkurang sedikit pun.

“Karena kau ingin aku pergi dari kehidupanmu. Kau tidak menginginkanku lagi. Aku pikir diriku akan baik-baik saja tanpa dirimu. Ternyata, tidak,” jawabnya.

Jantungku berhenti berdetak sejenak. Tanganku yang bebas pun bergerak, menyentuh rahangnya―mengusapnya pelan.

“Aku … aku tidak ….” bisikanku terputus, aku enggan menyatakan secara gamblang.

Tidak mungkin aku begitu, Oh Sehun. Bagaimana bisa aku ingin kau pergi dari hidupku? Aku melalui setiap sekon dalam kehidupanku hanya dengan memikirkan dirimu. Aku mengucapkan seluruh kalimat itu dalam benak ini. Aku terlampau pengecut untuk mengungkapkan.

“Kau terlihat baik-baik saja tanpa diriku,” Sehun kembali berkata.

Aku memejamkan mata, ketika Sehun mengecup tangan yang berada di parasnya. Aku mengatur nafasku.

Aku tidak baik-baik saja, Sehun. Aku merindukanmu.

“Untuk pertama kalinya dalam hidupku, Nara. Aku kalah telak. Aku mencintaimu dan aku bersikap egois untuk ke sekian kalinya,” Sehun bermonolog.

“Lalu kau menggunakan Carys agar aku kembali padamu,” aku menebaknya.

Sehun mengangguk. “Aku curang,” dia mengakui. Pria dewasa ini serupa anak kecil yang baru saja mengucapkan kesalahannya.

Sisi lain Sehun yang hanya ia tunjukkan padaku.

“Kau masih licik,” ujarku.

Sehun menundukkan kepala. “Aku memang tak pantas mengharapkanmu kembali. Maafkan aku karena menginginkanmu,” ujarnya.

Aku tersenyum tipis ketika menyadari jika Sehun mulai kehilangan kepercayaan diri.

“Kau tetap Sehun yang jahat,” aku mengimbuhkan.

”Iya,” jawabnya sendu serupa bisikan angin. Dia tetap menundukkan kepala.

Aku merangkum wajahnya agar mata kami bertemu.

“Kau juga masih tetap menjadi Sehun yang kucintai,” tutupku, sebelum aku menciumnya.

Sehun terkejut.

Sehun membiarkan aku mengecupnya, dia membalasnya tanpa menunda. Caranya mengecupku masih sama, seolah aku ialah candu bagi dirinya. Aku menyukainya.

Namun, ada tanda tanya besar yang sedang ada di pikiranku.

Apa aku masih menginginkannya?

Apa aku sudah memaafkannya?

Apa aku hanya terbawa suasana?

Sehun enggan membiarkan otakku berpikir jernih. Hanya dia yang dapat membuatku tak mengenali diriku sendiri.

“Apa dia sudah tidur?” tanyaku.

Aku mengintip dari balik pintu kamar Carys. Sehun yang berbaring membelakangiku pun langsung mengubah posisinya agar aku dapat melihat putri kami. Sehun sedari dua jam lalu menidurkan Carys, sementara aku istirahat sebentar karena terlalu lelah.

Aku baru tahu jika Sehun sangat dekat dengan Carys. Gadis kecilku membutuhkan ayahnya agar bisa tidur nyenyak. Hal tersebut bukan tanpa alasan. Selama dua tahun Carys disembunyikan oleh ibu angkatku, anakku mendapatkan perlakuan yang tidak layak. Sehun menceritakan luka-luka putri kami dan Carys yang membisu ketika pertama kali datang. Carys hanya merasa aman saat Sehun berada di dekatnya.

Hatiku hancur mendengarkan kisahnya. Anakku menderita karena aku melupakannya. Aku bahkan tidak mengetahui keberadaannya. Aku bukan ibu yang baik. Aku berulang kali menyalahkan diriku. Walaupun begitu, Sehun selalu menyatakan bahwa ini bukan salahku―aku sakit waktu itu. Benturan keras dan trauma akibat kecelakaan yang menyebabkan aku lupa, bukan karena keinginanku.

Aku mungkin bisa mulai memaafkan diriku. Kondisiku harus lebih stabil agar bisa merawat Carys.

“Belum,” jawabnya singkat sambil memberi tanda agar aku memasuki kamar yang didominasi warna merah muda.

Ada banyak boneka beruang. Kamar Carys serupa ruangan yang didesain untuk para putri di negeri dongeng. Aku yakin Sehun memberikan semua yang terbaik untuknya.

“Dia cantik,” kataku. Netra ini memindai Carys. Gadisku sedang mengenakan piama tidur coklat. Ia terlelap dengan sangat pulas.

Sehun tersenyum. Dia mendekatiku lalu memeluk pinggang ini. “Dulu hanya Jung Nara yang menjadi wanita tercantik dalam hidupku. Kini kau harus rela memberikan kedudukanmu pada putri kita,” bisiknya.

Ada rasa hangat ketika aku mendengar pernyataannya. Dia menyebut Carys sebagai putri kami, itu membuatku refleks tersenyum. “Aku rela memberikan apa saja untuk Carys,” bisikku.

Sehun tidak menjawab. Ia hanya mencium puncak kepalaku. Selanjutnya pria itu mengajakku keluar dari kamar Carys agar percakapan kami tak mengganggu tidurnya.

Tangan Sehun masih menggenggam jari-jariku, erat―enggan menguraikan barang sebentar. Dia menarikku lembut menuju halaman belakang. Rumah ini sangat luas. Letaknya di dekat danau buatan yang indah. Aku bisa melihat danau itu dari tempatku berdiri sekarang.

“Langit sudah sangat gelap,” kataku.

Sehun yang berada di sisiku pun mengangguk. “Waktu berjalan cepat jika ada kau di sampingku dan sangat lambat apabila kau pergi,” gumamnya.

Aku menghela nafas panjang. Pertemuan kami kali ini memang indah. Akan tetapi, ada beberapa keraguan yang ada dalam benak. Diriku berulang kali mengingatkan hal-hal buruk yang kulewati ketika bersama Sehun. Aku takut dia menyakitiku lagi.

“Aku harus pulang,” kataku menghapus diam di antara kami.

Alis Sehun bertaut. “Kau sudah pulang, ini rumah kita,” balasnya.

Aku menggeleng. “Kita telah berpisah―“

“―Aku mencintaimu, Nara,” dia memotongnya. Tatapannya tajam. Tangan Sehun meremas bahuku lembut. “Aku tidak bisa hidup tanpa dirimu. Dua tahun ini adalah neraka bagiku,” lanjutnya.

“Kebersamaan kita hanya akan berujung menyakitkan, Sehun,” aku berkata pelan kemudian membalas pandangannya. “Kau hanya terbawa suasana. Kau pasti akan berubah pikiran. Jika kau memilihku untuk berada di sisimu, kau harus merelakan semua yang kau miliki―perusahaanmu―”

“―Aku sudah mengundurkan diri,” selanya. Sehun mundur satu langkah. Dia meraup wajah. Surainya tampak acak. Pria itu terlihat berantakan.

Aku mengira jika telingaku salah dengar. Sehun yang begitu terobsesi dengan pekerjaan dan perusahaannya tidak mungkin membuang semuanya.

“Tidak, kau pasti bercanda,” aku bersuara. Aku membuang muka, lalu menatapnya lagi. “Tidak mungkin seorang Oh Sehun melepaskan segalanya,” sambungku.

“Perusahaan itu bukan segalanya lagi bagiku, Nara. Dua tahun waktu yang cukup untuk membuka mataku. Aku tidak bisa kehilanganmu lagi,” jawabnya putus asa.

Aku memejamkan mata sebentar.

Aku memeluknya.

Aku mendengarkan detak jantungnya yang kencang. Dia sungguh menderita. Sehun tidak berdusta. Gerakan non-verbal pria ini sungguh putus asa.

“Tetap bersamaku, Nara. Aku mohon,” dia berucap dengan menyedihkan. Tangan Sehun mengungkungku. Bibirnya terus saja berbisik, “Aku mencintaimu. Jangan pergi.”

“Carys alergi kacang. Dia menyukai beruang dan susu sapi. Pipinya menggembung jika marah,” aku kembali menghafal semua hal tentang putriku. Ada catatan kecil yang dibuat untukku dari pengasuh Carys. Semua hal mengenai Carys ada di sana. Aku harus mengenal Carys lebih dekat sebelum menemuinya lagi.

“Kau bisa membacanya nanti, Nara,” suara mengantuk Sehun yang berada di sampingku pun terdengar.

Sehun berada di balik selimut. Ia bertelanjang dada. Wajah pria itu merona saat aku tersenyum sebagai respons atas ucapannya. Dia terlihat mengantuk, tapi masih berusaha berbincang denganku.

“Aku tidak sabar menunggu pagi,” kataku saat dia menarik tubuhku agar mendekatinya.

“Aku tidak ingin cepat-cepat pagi,” gumamnya teredam karena kini ia sibuk mencium leherku.

Aku berusaha mengabaikannya dengan kembali membaca catatan walaupun masih dalam posisi tidur. Jari-jari Sehun yang sudah bergerak semaunya menyusuri tubuh ini membuat aku susah berkonsentrasi.

Aku memang murahan. Hanya dengan permohonan Sehun yang menyedihkan itu, aku sudah bisa ditarik lagi ke ranjangnya.

“Hentikan Sehun―nggh,” aku berusaha menolak, tapi bibirku justru mendesah.

Kenapa aku jadi tidak sinkron begini?

Aku mengabaikan cacatan itu begitu saja ketika Sehun mulai mencari wajah ini. Dia mencium keningku, kelopak mataku, rahangku, dan berakhir di ujung bibirku.

Sehun berhenti di sana.

Aku lantas membuka mata saat tak ada pergerakan darinya. “Kenapa berhenti?” tanyaku.

“Kau yang memintaku berhenti,” jawabnya lugu.

Aku mengerang kesal, lalu mengalungkan tanganku ke lehernya. Aku tanpa mempertimbangkan harga diri yang tersisa memaksa Sehun untuk menciumku.

Kami tidak tidur sepanjang malam. Kami tidak bercinta, hanya saling melampiaskan rindu dengan sentuhan ringan. Aku masih memakai gaunku. Eum, Sehun sudah kehilangan kemejanya. Namun, sungguh hanya sejauh itu―sampai saat ini, entah menit berikutnya apa yang terjadi.

Aku menyukai kelembutan Sehun. Aku tahu benar dia sangat menginginkan diriku, tetapi dia berhati-hati. Sehun sama sekali tak memaksakan kehendaknya. Dia menunggu aku yang meminta.

Aku membuka satu-persatu kancingnya, lalu membuang begitu saja kemejanya. Aku melakukan hal-hal yang selama dua tahun ini hanya ada dalam imajinasiku. Menyentuh kulitnya―otot perutnya―titik sensitif dalam tubuhnya yang paling aku suka karena aku bisa mendengar erangan pelan dari Sehun.

Kenapa pria ini bisa sangat menawan?

Bahkan, keringat yang membuat surainya basah pun bisa membuatku tertarik.

Aku melumat bibir bawahnya. Merasakan kelembaban milik Sehun yang bermain. Awalnya, dia membalasnya lembut. Namun, Sehun mulai rakus saat tanganku sengaja menyentuh bagian bawahnya lalu meremasnya pelan.

Sehun melepaskan kecupan kami sejenak. “Nara, jangan membangunkan singa yang sedang tidur. Kau akan menyesal,” bisiknya di telingaku.

Aku langsung saja tertawa. “Kau mengendalikan diri dengan sangat baik dan aku tak aka menyesal.”

Sehun menatapku. Dia masih berada di atasku dengan tangannya yang digunakan sebagai penyangga.

“Aku tidak akan bercinta denganmu sebelum kita menikah lagi,” jawabnya tegas.

Aku menyeringai, “Benarkah? Apa kau sungguh bisa mengabaikanku?”

Aku mendorongnya tanpa menunggu jawaban. Kini giliranku yang memimpin. Tubuh kami saling menempel. Aku kembali mengecupnya. Jari-jariku menarik surainya, melampiaskan gairah yang begitu membara.

Tubuhku benar-benar terbakar. Aku berusaha melepaskan zipper miliknya. Tanganku dengan lihai membuang pakaian yang tersisa pada raga priaku. Aku sendiri tidak tahu mendapatkan keberanian ini dari mana, semuanya berjalan begitu saja. Aku sudah berada di bawah Sehun dan mengulum bagian paling privat darinya.

Sehun menarik rambutku, tidak menyakitkan. Dia pasti terkejut dengan manuver yang aku lakukan. Sehun mengerang putus asa. Aku suka mendengar suaranya yang berat karena bibirku yang bekerja.

“Nara,” dia menyebutkan namaku berulang kali.

Bagian bawah Sehun yang menenggang sempurna perlu puluhan menit untuk membuatnya puas. Dalam titik klimaksnya Sehun menarikku dengan kekuatan yang tak dapat aku lawan.

Sehun membuat posisi tubuh kami sejajar. Ia mengusap bibirku yang masih ada sisa cairan putih miliknya. Rasanya aneh, aku sudah lama tidak melakukannya.

Sehun hanya menatapku kesal. Aku menyeringai mengejeknya.

”Kau benar-benar akan menyesal,” ucapnya rendah-sangat seduktif.

Aku menggigit bibirku. Menelan seringaiku sebab Sehun tampak menakutkan sekarang. “Coba saja, buat aku menyesal,” aku justru menantangnya

Menit berikutnya, dia merobek gaunku. Ini hal tergila yang pernah aku saksikan dan rasakan. Tanpa aba-aba, Sehun menyatukan tubuh kami dengan cara yang paling liar.

Aku membolakan mata karena rasa sakit yang tak terduga. Sehun hanya diam setelah memasukiku. Aku terengah, jariku mencengkeram bahunya. Dia menyembunyikan diri di tengkukku. Tak bergerak. Sehun menunggu aku menyesuaikan diri.

Aku bisa mendengar deru nafasnya.

“Kau kalah. Kau bilang tidak akan menyentuhku,” gumamku.

“Iya,” jawabnya menggeram.

“Kau tak bisa menolakku―Sehun pelan-pelan,” ucapanku menjadi jeritan melengking saat dia mulai bergerak dengan cepat.

Malam ini Sehun begitu keras.

“Aku harus bangun, kemudian menemui Carys,” ucapku saat membuka kelopak mata.

Sehun masih berada di sampingku. Dia melihatku dengan sayang, lalu tersenyum. Aku berangsur masuk ke dalam dekapannya, mencium sebanyak-banyaknya parfum khas dari tubuhnya.

Sehun masih belum mengenakan pakaiannya. Aku yakin dia terbangun lebih awal kemudian memandangiku tidur, kebiasaannya dari dulu.

“Carys sedang tidur siang,” katanya.

Aku mencuri pandang pada jam dinding. “Sudah jam dua belas siang,” aku berucap terkejut. “Kenapa tidak membangunkanku?” aku bertanya kesal.

Sehun tertawa. “Aku sudah berusaha membuatmu bangun, tapi kau justru semakin nyenyak.”

“Astaga, aku belum mengabari Chanyeol. Dia pasti―“

“―Dia memang sangat mengganggu karena menghubungimu berulang kali, tapi aku sudah memberitahunya jika adiknya sedang berada di ranjang bersamaku,” sela Sehun.

Aku bersandar di dadanya. Sementara Sehun membelai suraiku. Aku menyukai posisi ini.

“Lalu, apa yang dikatakannya?” tanyaku.

Sehun menjawab dengan santai, “Dia akan membunuhku jika berani menyentuhmu dengan paksa. Sayangnya, kau sangat suka rela melakukannya. Aku yang seharusnya menuntutmu karena memaksaku untuk bercinta.”

Aku melotot ke arahnya. “Memaksa? Kau terus saja berkata, ‘satu kali lagi, Nara’. Yang benar saja,” aku mencibir.

Sehun tertawa sampai netranya membentuk bulan sabit. Hal yang sangat jarang terjadi.

“Jam tidur siang Carys sampai pukul tiga sore. Kita masih punya waktu dua sampai tiga jam untuk melakukannya sekali lagi,” kelakarnya.

Aku rasa ucapannya bukan sekedar bercanda sebab selanjutnya, Sehun sudah mulai ‘mengerjai’ tubuhku.

“Apa kau tidak bosan?” aku memberengut.

“Tidak akan pernah,” jawabnya sebelum menjadikan aku kelelahan lagi.

Sehun baru mengizinkanku berpakaian setelah pukul empat sore. Dalam keadaan lelah, aku segera mandi lalu mengenakan gaun lain yang sudah disiapkan. Perutku sangat lapar karena aku melewatkan makan pagi dan siang―lebih memilih tidur bersamanya. Sehun pun juga sudah rapi dengan kaus hitam dan celana jeans. Surainya masih basah, dia terlihat menggairahkan bahkan dengan pakaian lengkap.

Argh, hentikan Jung Nara!

Pikiranku benar-benar perlu dibersihkan.

“Apa kau siap bertemu dengannya?” tanya Sehun.

Aku menggigit bibir. “Bagaimana jika Carys tak menyukaiku?”

Sehun memutar bola mata. “Jangan memikirkan hal konyol,” katanya.

“Aku benar-benar gugup,” aku kembali berucap ketika Sehun mengajakku untuk ke ruang latihan tempat Carys les balet. “Bagaimana caramu menceritakanku pada Carys?” aku bertanya.

Sehun tertawa kecil. “Kalian punya ketertarikan yang sama. Dia suka menari. Aku memutarkan beberapa video pertunjukanmu. Carys lantas menyukaimu, apalagi karena kau adalah ibunya. Hampir setiap hari dia bertanya kapan kau pulang. Aku mengatakan bahwa kau butuh waktu untuk menyembuhkan diri. Carys memang masih berusia empat tahun, tapi pemikirannya lebih dewasa daripada usianya. Carys gadis kecil yang sabar dan baik, mirip sepertimu,” Sehun menjelaskan panjang dan lebar.

Aku mendengarkan setiap perkataan Sehun. Cara Sehun bercerita tentang Carys terdengar menyenangkan. Aku bisa tahu apabila Sehun sangat memuja dan mencintainya.

“Carys hebat, dia bisa mengubah iblis seperti dirimu,” aku bergumam tanpa sadar.

“Iya, aku bertingkah lebih lembut dan manis sekarang. Carys sering mengatakan apabila ayahnya mirip dengan strawberry cheese cake,” timpalnya.

Aku bergelayut manja di tangannya. “Aku senang karena strawberry cheese cake ini menjadi milikku,” kelakarku yang disambut tawa riangnya.

Carys langsung berlari ke arahku ketika kami memasuki ruangan latihannya. Gadis kecilku mengenakan rok tutu putih. Surainya diikat dua. Pipi Carys merah muda mirip sekali dengan marshmallow. Kulitnya seputih adonan kue dan bibir kecilnya yang mirip chery, dia cantik.

Carys menunjukkan gigi kelinci, ada beberapa gigi yang berlubang. Manis sekali, aku ingin memeluknya. Tidak, aku harus sabar. Aku tak ingin membuat Carys takut.

Carys merentangkan tangan di hadapanku. Matanya berkedip polos. Dia pun berkata, “gendong,” pintanya.

Sehun sudah maju hendak mengangkat tubuh kecil itu. Namun, putrinya justru menggeleng.

“Carys mau Ibu, bukan Daddy,” tolaknya tegas.

Caranya bicara mirip Sehun. Dia pasti keras kepala serupa ayahnya.

Aku mengangguk dengan antusias kemudian merentangkan tanganku ke arahnya. Aku sangat bersemangat ingin menggendongnya dalam pelukanku.

“Dia berat, Nara. Baby, jangan membuat ibumu lelah,” Sehun memperingatkan.

Carys cemberut.

Aku juga memberengut.

Kami berdua menatapnya.

Sehun menghela nafas berat. “Kenapa kalian harus melihatku dengan cara yang sama? Baiklah, silakan saja gendong dia, tapi jangan mengeluh kalau tanganmu sakit,” katanya menyerah.

Aku dan Carys tertawa. Aku segera mengangkatnya. Carys lumayan berat ternyata, bobot tubuhnya 12,5 kilogram. Namun, aku terlalu senang sekarang sehingga mengabaikan beratnya.

“Ibu cantik, Carys suka,” ocehnya. Carys menyentuh hidungku. “Hidung kita sama, Dady benar,” lanjutnya kemudian sibuk menghitung kemiripan kami.

Aku tertawa geli, mengusapkan hidungku dengan miliknya. “Carys, ibu sangat sayang padamu,” kataku lembut.

“Carys tahu dan Carys juga sangat sayang Ibu,” katanya.

Rasanya aku ingin menangis.

Sehun menepuk punggungku beberapa kali sebagai peringatan agar diriku dapat mengendalikan diri.

“Iya, Sayang. Maafkan ibu baru bisa menemuimu sekarang,” suaraku sudah serak.

Aku sungguh berusaha untuk tegar, tapi aku terlalu bahagia untuk bisa mengendalikan bulir air mata yang sudah menetes. Carys adalah mukjizat terindah yang pernah kuterima.

Jari-jari kecil Carys mengusap bekas air mata ini. Dia tersenyum sampai membentuk garis melengkung. Terlalu mirip Sehun.

“Jangan menangis. Carys tidak suka melihat ibu menangis. Ibu harus tersenyum senang seperti ini,” ujarnya lucu sambil mencontohkan. Dia kembali menarik sududt bibirnya, tersenyum lebar.

Aku tertawa di sela rasa haru. “Iya, ibu akan bahagia mulai sekarang. Kita akan bahagia, Carys―putriku,” aku berucap. Suaraku hilang karena aku menyembunyikan sedu ini di bahu anakku.

Carys nyata.

Dia hidup.

Aku bisa menyentuhnya, satu-satunya hal yang paling berharga dalam kisah hidupku.

Aku menghabiskan waktu bersama Carys dan Sehun hari itu. Kami berpiknik di danau belakang rumah. Aku memasak makan malam untuk mereka, menemani Carys bermain, dan tertawa bersama menikmati sore terindah. Terakhir, aku mengawasi Sehun menidurkan Carys. Gadis kecil itu sangat lengket dengan ayahnya. Meskipun, Carys senang berada di dekatku, tapi menjelang waktu tidur dia tetap mencari Sehun. Aku sedikit iri karena Sehun menerima cinta lebih banyak dari Carys.

Ah tidak, aku bersyukur karena bisa berada di antara orang-orang istimewa yang kucintai.

Kehidupan bahagia yang sangat kuinginkan. Namun, tetap ada sesuatu yang mengganjal dalam hati. Aku merasa ini terlalu membahagiakan.

Aku sering bertanya, apa ini hanya mimpi?

Aku jarang sekali mendapatkan kesenangan. Hanya ada cerita menyedihkan dalam masa laluku.

Apa aku berhak mendapatkan kebahagiaan ini?

Bisakah aku bertahan jika nanti aku kehilangan mereka?

Mungkin aku akan mati saja. Aku tidak bisa kehilangan apa pun lagi.

Ketakutan itu bukan tanpa alasan. Aku hanya tidak ingin mengulang kesedihan yang sama. Maka dari itu saat Sehun dan aku berbincang seusai menidurkan Carys, aku mengatakan segala kekhawatiranku. Dia mendengarkan dengan penuh pengertian.

“Dunia ini terlalu menakutkan untukku. Aku enggan mempercayai siapa pun. Mereka menyimpan kebohongan secara rapi, tanpa memikirkan dampak bagi orang lain,” ujarku.

“Hanya ibumu yang bertindak jahat padamu, Nara. Jongin juga, tapi dia yang membantu kita menemukan Carys, walaupun terlambat,” balasnya.

Aku menatap kosong taman bunga yang berada di sana. “Aku takut berada di sini. Aku ingin keluar dalam masalah, mempunyai kehidupan seperti orang normal,” aku mencurahkan isi hatiku.

Sehun yang awalnya duduk dengan santai di kursi sebelahku kini beranjak berdiri. Sehun berlutut di hadapanku sehingga paras kami bisa sejajar. Pria itu meraih tanganku lalu mengecupnya.

Ada jeda panjang dalam situasi ini.

Matanya yang tajam tak lepas dariku.

“Menikahlah denganku Nara. Kita mulai semuanya dari awal,” katanya pelan.

Aku mendengus.

“Tidak, aku tak ingin terikat dan dimiliki oleh siapa pun dengan begitu aku akan lebih bahagia,” jawabku tegas.

Aku tentu saja menolak.

Aku bukan wanita bodoh yang akan mengulang kesalahan serupa.

Aku tahu Oh Sehun tidak akan pernah berubah.

-oOo-

Halo, uda sekitar dua minggu aku gak update loh. Hehehe. Aku keasyikan main The Sims jadi lupa segalanya :(. Tapi, terima kasih untuk kalian yang sudah mau nungguin dan masih baca sampai sejauh ini. Bosen nggak? Aku harap kalian nggak bosen. Tenang tinggal satu part lagi. Part selanjutnya akan ada part terakhir sekaligus epilog.

Seperti biasa part terakhir akan aku password. Cara mendapatkan passwordnya gampang. Silakan tinggalkan alamat email kalian di kolom komentar part ini dan pastikan kalian sudah meninggalkan komentar pada part sebelumnya. Karena aku mendedikasikan cerita ini bagi teman-teman yang sudah membantuku menyelesaikan cerita ini dengan cara mengungkapkan ide mereka melalui kolom komentar. Maka dari itu hanya mereka yang bukan silent reader yang bisa membaca akhir cerita ini.

Passwordnya aku akan kirimkan melalui email/dm twitter. Ketentuan mendapatkan password sudah aku jelaskan dan tidak ada tawar menawar hehehe.

Terima kasih dan sampai jumpa ♡

-CONTACT ME ON-

 

Advertisements

124 thoughts on “Love Madness: Truly Madly Fall For You

  1. lovemyungzy says:

    Pliss happy ending ka, aku pas awal cerita ini dipublish chap awal baca tapi aku sibuk sama kuliah dan pas bru baru ini lg free terus buka line aku inget twelveblossom kangenn sama sehun nara juga apalgi sama cerita buatan kaka twelveblossom eh lanjut dan baca dri awal cerita ini deh hehhehe, pokonya ceritanya setiap mau nebak pasti ada kejutan yang spektakuler tidak terpikirkan oleh aku 😀😁😂😍semoga cerita twelveblossom semakin sukses dana nara sehunya juga happy ending😀😘😘😘😘
    Semoga aku bisa baca lnjut epilognya aku makasih banget ke kaka😍😍🤗👏
    Email: titapuspitasari216@gmail.com

  2. Yuni Puspita Ganef says:

    Really I’m curious about this ending, and this must be happy ending ..please 🙏

    @yunipuspita528@gmail.con

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s