Our Love Stories

Sehun

“Kapan pertama kali kau menyukaiku?”

Sehun melejitkan bahu. “Mungkin baru-baru ini,” jawabnya tak acuh.

Nara menjungkitkan bibir. “Pasti sudah sangat lama sampai kau lupa awal mulanya,” selanya.

Sehun diam karena gadis itu benar.

-oOo-

My Eyes On You

Sehun mendribel bola basket yang ada di tangannya. Gerakan cepat pemuda berusia sembilan belas tahun tersebut menyita perhatian para gadis yang sengaja berdiri di pinggir lapangan. Ini bukan pertama kalinya gadis-gadis itu menjadi penonton setia seorang Oh Sehun. Bukan rahasia umum jika lapangan basket sekolah berubah menjadi sangat ramai apabila jadwal Sehun berlatih tiba.

Mereaka tetap bersorak untuk Sehun meskipun pemuda yang dikagumi sama sekali tidak peduli. Bagi Sehun mereka itu berisik dan mengganggu. Ia hanya ingin hidup dengan normal karena satu-satunya hiburan di tengah jadwal belajarnya yang padat adalah berolah raga. Kehadiran para gadis di sana hanya mengundang stres bagi Sehun sebab kawan satu tim dan lawannya jadi tidak berkonsentrasi dalam bermain.

Sehun menyugar surai hitamnya setelah mencetak three point, bertepatan dengan itu peluit tanda berakhirnya permainan terdengar. Sehun mengobrol sejenak dengan kawan satu timnya, lalu ia berlari ke pinggir lapangan hendak cepat-cepat pergi dari sana sebab ada beberapa murid perempuan yang menuju ke arahnya.

“Tolong terima minuman ini,” seorang gadis bersurai pendek menyela jalannya. Ada sekitar lima orang murid perempuan lain yang mengikuti perempuan itu.

Sehun mengernyitkan alis, enggan menutupi rasa kesal. Tanpa menjawab Sehun hanya melewatinya. Pemuda itu mendengar si gadis menangis. Lantaran demikian, Sehun tak menoleh sedikit pun.

Bukan urusanku, batin Sehun.

Sehun mengeram kesal ketika ada lagi yang nekat datang ke arah Sehun memberikan ini dan itu. Sama halnya dengan yang pertama, Sehun menolak mereka dengan dingin dan kasar.

Sehun masih mengusap keringatnya di pinggir lapangan―tentunya dengan dihujani tatapan kagum penggemarnya.

“Sehun sangat tampan,” teriak salah satu dari mereka.

“Sehun yang paling hebat,” ucap yang lainnya.

“Sehun sempurna dalam berbagai hal,” puji sekelompok murid perempuan terang-terangan.

Sehun masih mengabaikan mereka yang memanggil namanya. Sementara netranya memindai, ada sesuatu yang sedang dicari.

Dia tidak datang, pikirannya berkata lagi.

Sehun menghela nafas kasar. Dia pergi begitu saja dari lapangan untuk berganti seragam lagi. Setelahnya, Sehun melewati lorong-lorong kelas. Ada satu tempat yang menjadi tujuannya―ruang melukis.

Sehun berhenti di jendela kaca yang membingkai isi ruang melukis itu. Ada seorang murid perempuan di sana, sibuk dengan kanvasnya. Sehun bisa mendapati ada satu sampai tiga coretan di wajah gadis bersurai hitam tersebut. Namanya Jung Nara. Satu-satunya yang bisa menarik perhatiannya.

Hanya dengan melihatnya, Sehun bisa tersenyum.

Jika gadis lain di luar sana perlu jutaan cara agar Sehun datang kepada mereka. Jung Nara tidak butuh itu karena Sehun yang akan selalu datang terlebih dahulu kepadanya.

“Apa tidak bosan?” tanya Sehun setelah ia memasuki ruang melukis. Dia duduk di kursi samping Nara.

Nara tidak menjawab.

“Sudah waktunya pulang, Nara,” katanya lagi. Sehun berubah menjadi nyaring apabila itu berkaitan dengan Nara. “Toh, gambarmu juga tidak terlalu bagus,” imbuh Sehun sengaja mengejek.

Sehun tidak serius. Siapa pun yang melihat lukisan Nara pasti kagum, termasuk pemuda ini. Mungkin itu lah yang membuat Sehun menyukai Nara.

Nara menolehkan kepalanya pada Sehun. Akhirnya, dia memberikan atensinya pada pemuda itu. “Pikiran dan ucapanmu selalu berbalikan,” tandas Nara. Ia lalu mengamati lawan bicaranya dari ujung kaki sampai kepala, kemudian tersenyum. “Apa mereka berteriak terlalu nyaring?” giliran Nara yang bertanya.

Sehun melipat tangan di depan dada. “Iya,” jawabnya singkat.

Jari Nara mengusap lembut puncak kepala pria yang jauh lebih tinggi darinya. “Kau harus lebih ramah kepada mereka. Mereka menyukaimu―“

“―Tapi aku tidak menyukai mereka,” potong Sehun.

Nara menatap Sehun. Dia meletakkan kuas. “Lalu, siapa yang kau sukai?”

Sehun tidak langsung membalas. Dia hanya melihat Nara.

Jung Nara, jawab Sehun dalam hatinya.

“Tidak ada yang menarik di sini,” kata Sehun kemudian membuang muka.

Nara tertawa. “Kau pasti sedang berbohong. Aduh manisnya, pipimu jadi merona begini kalau mencoba berbohong padaku,” kelakar gadis itu ia mengusap wajah Sehun.

Sehun tidak bisa berdusta. Ia tahu Nara bisa menebak semuanya. Andai saja Sehun bukan pengecut pasti ia sudah menyatakannya. Akan tetapi, Nara telah menolaknya sebelum Sehun dapat berbuat lebih banyak.

Karena … Jung Nara telah ….

“Jung Nara,” suara bariton lain menginterupsi mereka. “Ayo pulang,” tambah Kim Jongin―pemuda yang baru saja memasuki ruang melukis.

Kim Jongin menginterupsi percakapan Sehun dan Nara. Sehun menghantam Jongin dengan tatapan mengintimidasi. Ia kesal. Namun, Nara memberikan seluruh atensinya pada pemuda berkulit tan itu―Jongin. Nara tersenyum sangat cerah.

Sehun pun cemburu. Ah, dia tak dapat melakukan apa pun.

Karena Nara sudah terlanjur jatuh cinta pada Kim Jongin.

First Love Syndrom

Reuni?

Nara merasa bodoh karena menyetujui undangan reuni itu. Dia tidak punya banyak kenangan bagus selama sekolah menengah atas. Nara sudah cukup puas dengan kehidupannya sekarang, tanpa menggali kembali ke masa lalu. Nara amat sangat kurang percaya diri menghadiri reuni hari ini.

“Aku ingin pulang,” rengek Nara yang mengenakan gaun putih bermotif bunga-bunga kepada pria yang kini berada di kursi kemudi.

Sehun yang menjadi sopir pribadi Nara―mereka menjadi sangat akrab karena melalui masa kuliah dan kebetulan bekerja di tempat yang sama. Sehun berada di sekitar Nara selama delapan tahun belakangan ini. Ia mengambil kedok sebagai sahabat yang baik.

Ah, cinta pertama memang susah dilupakan.

“Kita sudah sampai, Nara. Kalau kita kembali, kau membuang waktuku yang berharga,” kesal Sehun. Pria berkemeja putih tersebut menghentikan kendaraannya di depan sebuah bar terkenal daerah Gangnam.

“Aku tidak sanggup bertemu Jongin,” ucap Nara. Ia menarik kemeja Sehun. “Apa aku sudah terlihat cantik?” sambung Nara.

“Kau selalu cantik,” jawab Sehun. Pemuda tersebut merapikan surai Nara yang sedikit keluar jalur. “Katanya, kau sudah move on dari si berengsek itu,” lanjutnya.

Nara menggigit bibir. Ia memejamkan mata. “Rasanya aku terkena sindrom cinta pertama,” oceh si gadis.

Sehun tertawa. Well, dia paham benar. Sehun juga terkena sindrom yang sama.

“Kau akan baik-baik saja,” kata Sehun. Pria tersebut keluar dari mobil, kemudian membuka pintu Audinya. “Kita harus melawan sindrom cinta pertamamu, Nara,” tegas Sehun.

Nara sempat ragu … dia menghela nafas sebentar.

“Percaya padaku, Nara. Aku akan memastikan kau baik-baik saja,” Sehun menyatakannya dengan lembut.

Nara menatap Sehun. Kawan baiknya selalu bisa meyakinkannya. Sehun ialah satu-satunya yang dapat ia percaya selama ini. Pantas saja apabila Nara menerima jari-jari Sehun untuk menggenggam tangannya dengan erat. Entah bagaimana Nara melewati hari-harinya tanpa Sehun.

Nara selalu bertanya dalam hati, kenapa Sehun sangat baik padanya?

Please, Stop The Time

Sehun menekan enam angka untuk membuka pintu apartemen Nara. Gadis itu tidak masuk kantor hari ini dan mengaku sedang demam. Sehun hampir saja bolos kerja karena terlalu cemas, ia ingin lekas membawa Nara ke dokter. Untung saja, Nara bisa ke rumah sakit sendiri. Namun, Sehun tak bisa meredam kecemasannya. Nara memenuhi pikirannya sampai Sehun hampir gila.

Ternyata yang dikhawatirkan justru tiduran di ruang santai sambil tertawa keras akibat menonton film komedi. Nara tampak sehat kalau saja tidak terpasang kompres di dahi dan batuk beberapa kali.

“Sehun kau sudah datang,” sapa Nara, dia langsung duduk lalu menepuk sofa―ingin Sehun singgah di sebelahnya.

Sehun menurut. Dia terengah pelan. Sehun memilih naik ke lantai lima dengan menggunakan tangga karena tidak sabar menunggu lift.

Nara mendekati temannya. Ia hendak beringsut menyandarkan kepala ke bahu Sehun, tempat paling nyaman selain semua bantal di ruangan ini. Akan tetapi, Sehun mengambil spasi.

“Sebentar Nara, aku harus mengatur nafasku,” kata Sehun, dia memejamkan mata sejenak.

Benar, Sehun butuh waktu untuk menormalkan jantungnya. Jantung Sehun akan kembali berdebar keras apabila Nara berada di pelukannya. Nafasnya juga akan bekerja keras karena Sehun berubah menjadi sangat serakah jika itu berkaitan dengan Nara.

Nara tampak kecewa. “Aku sedang sakit sekali. Tenggorokan ini perih dan badanku demam―“

“―Kau akan segera sembuh,” potong Sehun sembari menarik Nara dalam pelukannya.

Nara tersenyum. Ia memainkan jari-jari Sehun yang menurutnya sangat cantik untuk ukuran laki-laki, bagian favoritnya. Ah, Sehun mempunyai keindahan tersendiri yang dikagumi orang lain.

Sehun membelai puncak kepala Nara dengan sangat hati-hati. Ia melakukan ini agar Nara cepat tidur.

“Aku tadi membaca di internet cara ampuh menyembuhkan flu,” ucap Nara setengah mengantuk.

Sehun yang memberikan seluruh perhatiannya pada Nara pun segera menyahut, “Caranya kau harus minum obat dan istirahat yang cukup―bukannya malah menonton film seperti ini,” Sehun mulai menebak.

Pria pendiam seperti Sehun bisa sangat cerewet jika itu berkaitan dengan Nara. Hanya Nara.

Nara menengadahkan kepala. “Dengarkan dulu ucapanku, Mr. Pemarah,” protes Nara. Ia mengusap rahang Sehun.

Sehun diam. Nara memang tahu cara membuatnya bungkam.

“Memang cara nomor satu dan dua adalah minum obat lalu istirahat. Ada cara nomor tiga yaitu kau harus membagikan sakitmu, itu akan mengurangi virusnya,” jelas Nara.

Alis Sehun bertaut. “Kau harus berhenti membaca artikel konyol seperti itu, Nara,” sindir Sehun, tapi ia tetap mempersilahkan Nara untuk melanjutkan ceritanya.

Nara cemberut. “Cara membagikannya ada dua. Pertama dengan pelukan dan kedua dengan kecupan,” lanjut Nara.

Sehun menyentil hidung Nara, “Aku tahu kau memintaku lekas memelukmu karena teori itu.”

Nara mengangguk sembari tertawa. “Benar, awalnya aku tidak ingin memberitahumu kalau kau sedang kumanfaatkan. Namun, aku merasa bersalah kalau ternyata kau besok sakit tertular diriku―“

“―Kalau begitu, aku lebih suka cara yang kedua,” Sehun memangkas ucapan Nara bersamaan dengan bibirnya yang mengecup gadis dalam pelukannya.

Nara terkejut. Ia membolakan mata. Semua keterkejutan itu hilang dalam tiga sekon setelah Sehun melumat bibirnya dengan sangat pelan.

Lembut dan lembab, itu deskripsi Nara terhadap kecupan ini. Sehun bukan laki-laki pertama yang pernah menciumnya. Kendati demikian, Sehun menjadi yang pertama―membuat Nara tidak ingin melepaskannya.

Bisakah waktu berhenti sekarang? Nara meminta dengan penuh khidmat sepanjang kecupan itu.

Sebab … Nara bosan berpura-pura tidak menginginkan Sehun.

Nara muak meladeni Sehun yang bertingkah seolah mereka hanya teman.

Setelah kecupan ini Nara bertekad untuk menjadikan Sehun kekasihnya. Ia tak dapat menunggu pria bodoh ini untuk menebak perasaannya.

The Man That I Love

“Apa kau benar Sehun yang dulu? Sehun temanku?” Nara mengulangi pertanyaannya untuk ke sekian kalinya.

Pria yang berada di hadapannya pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sehun sudah mengatasi puluhan presentasi untuk memenangkan tender. Ia punya kepercayaan diri yang cukup banyak agar dapat berbicara di depan umum. Namun, nyalinya menciut menjadi sekecil semut ketika dirinya harus bicara berdua dengan Nara.

Topik yang mereka angkat tidak berat. Hanya saja posisi Sehun yang sedang berlutut di hadapan Nara sambil membawa kotak cincin, sementara si gadis tak lekas menjawab lamarannya. Nara justru memasang wajah heran, kemudian tertawa keras.

Sehun yang menjauhi hal romantis pun rela merencanakan makan malam di pinggir pantai, demi meminta Nara menikah dengannya. Respons dari Nara pun semakin menurunkan tingkat percaya diri Sehun. Rasanya Sehun ingin lompat ke laut lalu menghilang bersama lumba-lumba.

“Apa pertanyaanmu harus aku jawab? Aku tetap Sehun yang dulu,” Sehun menimpali dengan galak, demi menutupi rasa malunya.

Nara yang kala itu mengenakan kaus longgar dan celana jeans pun mengubah posisinya menjadi duduk. Nara menarik Sehun singgah di sebelahnya, Ia tidak suka melihat Sehun berlutut.

Nara meraih kotak cincin itu, kemudian meletakkannya di depan. Ia memandangi Sehun yang memberengut.

“Aku hanya heran. Sehun yang kukenal tidak bakal semanis ini. Sehun yang dingin, pemarah, dan tidak suka hal-hal manis justru membawaku ke pantai, menyiapkan buket bunga, dan melamarku. Apa kau habis diculik alien?” Nara berkicau.

Sehun semakin cemberut, dia melipat tangan di depan dada. “Aku hanya terlalu mencintaimu. Makanya, aku sedikit berubah,” balasnya.

“Bahkan kau menyatakan cintamu padaku!” seru Nara karena Sehun jarang mengatakan betapa dia mencintai kekasihnya.

“Jawab aku Nara,” rengek Sehun.

Nara tertawa. Sehun mulai menunjukkan sisi kekanakannya sekarang. Nara jadi ingjn menjahilinya.

“Kau mendeklarasikan diri sebagai pria paling sabar di duniaku, bukan?” Nara memastikan.

Sehun mengangguk.

“Kau dengan sabar menjadi teman baikku selama delapan tahun dan menyimpan rasa sukamu untukku. Kita berkencan selama tiga tahun, kau baru melamarku. Kalau begitu, apa aku boleh minta waktu tiga tahun untuk menjawab pertanyaanmu?” ujar Nara.

Sehun langsung melotot ke arah Nara. Ia memandangi Nara, tapi tidak mengatakan satu patah kata pun.

Nara menyentuh rahang Sehun. “Kenapa diam?” Nara bertanya lembut.

Sehun menghela nafas. “Aku akan menunggu,” jawab Sehun sedih.

Nara tersenyum. Dia mengecup bibir Sehun singkat. “Kau masih Sehun yang dulu,” katanya. Nara menggenggam jari-jari Sehun. “Kau bisa mengatakan tidak pada permintaanku, Love. Kau tidak harus mewujudkan semua yang kuminta jika itu membuatmu sedih.”

Sehun mendekatkan parasnya pada kekasihnya, hidung mereka saling bersentuhan. Sehun tersenyum. “Kalau begitu, aku tidak ingin menunggu. Jawab aku sekarang, Nara. Apa kau ingin menikah dengan pria sepertiku?” Sehun mengulang, kali ini lebih percaya diri dan ekstra lembut.

Nara mengangguk. “Tentu saja, aku harus menikah dengan pria sepertimu. Pria yang kucintai,” jawabnya kemudian mencium prianya.

Sehun miliknya.

Mana bisa Nara menolak Sehun?

Tidak akan bisa, di cerita ini atau pun yang lain―Nara tetap akan memilih Sehun.


Hai, apa kabar?

Ada yang masih libur lebaran?

Aku mau ngucapin selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin ya.

Terima kasih juga sudah baca cerita singkat ini. Jujur, aku kangen banget nulis soal Sehun x Nara tapi aku masih belum posting Love Madness karena belum selesai. Aku anggap ini kayak obat rindu sama Sehun hahahaha :’D. Semoga kalian juga menyukai cerita ini.
Oh ya, kalau kalian pengen nostalgia sama cerita-cerita lama yang kutulis soal Sehun bisa langsung tengok dan follow wattpadku klik >> Twelveblossom.

Sampai jumpa di cerita-cerita lain. Selamat liburan bagi yang masih libur. Semangat bagi yang sudah memulai aktivitasnya. Bye ❤

Advertisements

77 thoughts on “Our Love Stories

  1. Fazriyah53 says:

    Tuhkan gimanapun jalan ceritanya pasti mereka tu se sosweettt inii suka bangettt
    Oneshot tapi berasa chapter2 karena nyeritain dari jaman sekolah sampe mau nikahh..

  2. Kyungsa says:

    Aku bacanya sambil senyum senyum sendiri sumpah, ini sweet banget sehun sama naranya, kangen banget cerita kaya gini dan akhirnya bisa baca uwu. Semangat terus kak💪

  3. SWD says:

    “Tidak akan bisa, di cerita ini atau pun yang lain―Nara tetap akan memilih Sehun.” asikkkkkkkk fix love madness harus happy end !! Muachh

  4. DVN says:

    Aduuhhh sweetnyaaaaa.
    Selalu suka sama cerita Sehun Nara dr blog ini.
    Feelnya dapet bgt. Berasa nonton drama korea.
    Semangat selalu nulis ceritanya writer-nim

  5. baekkyu says:

    Sungguh, sejak aku baca cerita Sehun-Nara aku jadi ga males baca cerita Sehun yang lain wkwk Menurutku cerita ttg Sehun-Nara mau gimanapun ceritanya ga pernah gagal di kamu kak, keep writing yaaaa kutunggu ceritamu yg lain kak🤣🤣🤣

  6. reshalee says:

    Udah lama bgt gak ngikutin cerita di sini…. eeeh sekarang ke cantol cerita yang ini,emang suka banget ama cerita cinta sahabat tu….

  7. EXOSehunFangirl says:

    Ah kangen banget … sebelum author suruh dan posting ini, baru aja kmrn pas libur lebaran di rumah gue baca baca in cerita lama di wattpad author. Smua tentang sehun 😂 walaupun sebenernya dulu udah kelar smua gue baca. Tp gue baca ulang lagi hahahaha lumayan buat ngisi waktu dr pada larut pada kenyataan pahit #curcol. Im gonna wait for love madness, so excited ❤

  8. yoenaa1 says:

    Akhirnya ku melihat Sehun yang bucin yaallah-,- karena biasanya ka titis bikin Nara nya yang bucin😂😂😂

  9. Na ra says:

    Suka banget sama drabble ini. Manis dan ringan.

    Semoga dan semoga Sehun dan Nara bisa bahagia selamanya. Aminn

    Semangat utk Titis 🥰🥰

  10. osehn96 says:

    Aaaaàaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhh teriak dlu ahahahah. Seseneng itu kamu update. Iya bener. Ahahahhahaha.

    Mohon maaf lahir batin juga kaa. Serta sehun nara eh ahahahah..

    Sweee yaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s