When Oh Sehun Become Your Husband

CrFDb73WYAA7h5h

“Baby, take my hand. I want you to be my husband. Cause you’re my Iron Man
and I love you three thousand.” ―I Love You 3000, Stephanie Poetry 

-oOo-

Namanya Oh Sehun, dia adalah pria yang didambakan. Sehun rupawan, kulitnya yang pucat yang bersanding kontras dengan surai hitam pekat. Dia selalu mencuri perhatian, tingginya 189 sentimeter, dan tubuhnya proporsional. Sehun mempunyai otot perut serta biseps sempurna. Pria berusia akhir dua puluhan tersebut sangat menarik tanpa harus berusaha menonjol.

Semua orang yang ada di gerai kopi ini memberikan tatapannya pada Oh Sehun. Bahkan ketika ia hanya berjalan santai, tangan kanannya dimasukkan ke saku celana hitam, sementara jari-jarinya yang lain melonggarkan dasi. Sehun semakin memikat sewaktu membuka beberapa kancing kemejanya. Sehun lebih mirip seperti model yang sedang Suting iklan daripada seorang pria yang hendak menemui istrinya.

Well, Sehun sudah menikah adalah hal yang perlu dipertegas di sini. Mungkin hari pernikahan Sehun dengan Jung Nara menjadi hari patah hati nasional. Bagi sebagian pria yang berada di dunia tempat Sehun tinggal, menikah pada usia kurang dari tiga puluh tahun adalah hal yang janggal. Kebanyakan dari mereka merasa belum siap secara finansial. Alasan yang lain, mereka ingin bersenang-senang dulu sebelum sungguhan terikat dengan satu orang wanita.

Dua alasan tersebut tidak berlaku bagi seorang Oh Sehun. Sehun itu terlahir sempurna. Dia mempunyai pekerjaan yang lumayan―direktur perencanaan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang elektronik. Tinggal menunggu waktu saja si pria menjadi direktur utama karena perusahaan itu seharusnya menjadi kuasanya. Kehidupannya selama dua puluh tujuh tahun ini selalu bahagia, jadi dia tak punya alasan untuk menunda pernikahannya karena alasan ingin bersenang-senang dulu. Semua hal yang diinginkan Sehun ia dapatkan dengan mudah. Bukankah itu adalah impian setiap manusia yang hidup di bumi?

Alasan yang membuat Sehun berkomitmen dalam bahtera pernikahan ialah dia tidak dapat mendapatkan Nara dengan uangnya. Jung nara bukan gadis biasa yang akan tergila-gila karena pesona Sehun atau ketebalan dompet pria itu. Istrinya menjadi satu-satunya wanita yang sama sekali tak melihatnya dengan tatapan tertarik, justru Nara memberikan pandangan bosan.

Jung Nara mempunyai latar belakang yang sama dengan Sehun. Dia lahir sebagai putri dari pemilik sebuah agensi idola ternama. Nara terbiasa di kelilingi oleh pria rupawan yang mengejarnya. Kalau dihitung, Nara mempunya dua puluh delapan mantan kekasih. Nara berusia sembilan belas tahun, dia bahkan masih mengenakan seragam sekolahnya sekarang.

Nara duduk di meja favoritnya, tepat di bawah kipas angin. Gadis itu mengaduk bubble tea yang baru saja datang ke mejanya. Ia mengetuk meja bosan, tapi segera memberikan cebikan saat tahu Sehun memasuki ruangan.

“Dasar tukang pamer,” gumam Nara ketika Sehun memulai tingkahnya―membuka dasi dan kancing. Pria itu jelas tahu cara mendapatkan perhatian.

“Kau seharusnya berada di acara kelulusanmu, Jung Nara,” itu ucapan pertama Sehun. Pria itu bergerak menyampirkan jasnya di bahu Nara karena udara sedang dingin tapi gadisnya enggan mengenakan jaket atau mantel.

Sehun berusaha mempertahankan kesabarannya. Bayangkan saja, dia rela mempercepat urusan bisnisnya di Amerika demi menghadiri kelulusan istrinya ini. Namun, si gadis muda justru menghilang. Nara kabur dari sana. Sehun kewalahan mencari Nara, dia menguarkan amarah ke semua pengawal pribadi yang bertugas mengikuti gadisnya.

Nara memutar bola mata. “Aku tidak suka keramaian,” jawab Nara.

“Dengar young lady, kau boleh enggan menghadiri acara sialan itu tapi beritahu aku. Apa kau tahu aku sangat khawatir?” Sehun menghela nafas.

Sehun merasa bahwa ucapan yang keluar dari mulutnya sama sekali bukan dirinya. Oh Sehun tidak pernah mencemaskan sesuatu bahkan seseorang. Nara adalah satu-satunya makhluk hidup yang kehidupannya sangat diprioritaskan oleh pria ini.

“Dengar old man, jangan bertingkah seolah aku yang salah dan kau sedang marah,” gertak Nara. Gadis bersurai coklat tua tersebut melotot ke arah Sehun. “Apa kau tahu kesalahanmu?” imbuh Nara.

Sehun menampilkan ekspresi datar, dia sama sekali tak punya ide mengenai arah pembicaraan mereka. “Well, karena aku tidak memberitahumu jika aku datang ke acara kelulusanmu,” balas Sehun.

“Kalau itu aku tidak marah. Aku justru akan lari menghampirimu sambil berteriak ‘HELL-O MY HUSBAND’,” Nara menegaskan setiap ucapannya.

Nara menatap Sehun dengan pandangan tajam. Sementara Sehun yang dilihat seperti itu hanya bisa salah tingkah. Baiklah, seorang Oh Sehun yang sudah berada di fase dewasa dapat begitu kikuk ketika Nara melihatnya. Memangnya, sudah seberapa banyak  pria ini jatuh cinta pada Nara?

“Baiklah, aku yang kalah. Katakan kesalahanku,” Sehun mengakui kemenangan Nara.

Oh Sehun orang paling gigih seantero Seoul bisa mengalah juga.

Nara mendesah frustasi. Ia mengambil sesuatu dari dalam tas punggungnya kemudian melemparkannya pada Sehun.

Pria itu menangkapnya. Sehun hanya sekilas melihat, lalu dia menyeringai puas. “Aku sudah tahu,” jawabnya sembari menaruh test pack yang menunjukkan dua garis merah di meja. “Ini bukan masalah besar,” imbuhnya.

“You make me pregnant and you just said its not big problem?!” Nara mengeraskan suaranya, setiap orang yang ada di gerai itu menatap mereka.

Sehun mendapatkan pandangan menuduh dari para penonton. Okay, kini dia tampak seperti pria mesum yang menghamili anak di bawah umur. Hancur sudah citra yang telah dibangunnya. Sehun tersenyum lebar ketika memahami keadaannya.

Wait. Sehun tidak seharusnya menarik ujung bibirnya. Kenapa dia jadi terlihat sangat senang?

“Memangnya kenapa? Kita sudah menikah. Kau juga dengan suka rela datang ke ranjangku,” jawab Sehun ringan sambil melejitkan bahu.

Nara berdiri lalu berkacak pinggang. Dia menunjuk paras Sehun. “Kau bilang itu tidak akan membuatku hamil,” katanya.

Sehun tertawa sangat keras. Ia beranjak dari duduknya kemudian mengambil posisi di samping Nara. “Darling, kau seharusnya tidak tidur saat pelajaran Biologi,” ucapnya.

Tepat setelah mengerling, Sehun pun mengangkat tubuh Nara. Ia memilih mendengar Nara berteriak minta diturunkan daripada mereka harus membicarakan kehidupan rumah tangga di hadapan orang-orang.

“Turunkan aku, Brengsek!”

“Diam Nara, ada bayi di perutmu. Berhenti mengumpat.”

Tentu saja Nara tidak berhenti berkata kotor hanya karena Sehun memperingatkannya. Gadis itu terus saja mengoceh bahkan ketika mereka sudah naik ke kursi penumpang mobil. Audi tersebut melaju membelah jalanan Kota Seoul dengan asisten Sehun sebagai pengemudinya

“Aku masih marah padamu,” geram Nara, tapi ucapannya tidak sama dengan gerak tubuhnya yang justru mendekati Sehun.

Nara memeluk Sehun menyandarkan kepala di dada prianya. Dia menggumam soal betapa Nara membenci Sehun dan dirinya yang akan mendiamkan Sehun selamanya.

Sehun hanya tersenyum. Tangannya membelai surai Nara. Bibirnya sibuk mengecup puncak kepala istrinya setiap lima menit sekali sampai pada akhirnya ocehan Nara berganti menjadi dengkuran pelan. Nara tertidur tenang.

“Aku senang hidup  bersamamu, Nara,” bisik Sehun.

Hidup Sehun penuh drama sekarang. Ia seolah didorong memasuki cerita yang membuatnya mengalami hal di luar kuasanya. Cara dia mencintai Nara dan cara Nara membahagiakannya dengan sesuatu yang sederhana, semuanya enggan berada dalam kendalinya. Nara bisa menjadikan Sehun pria paling beruntung hanya dengan satu hal.

Misalnya saja …

“I love you so much, Oh Sehun,” Nara mengigau dalam tidurnya.

Hanya dengan pengakuan cinta itu.

-oOo-

Hai, semoga kalian suka cerita ini. Lagi pengen nulis Sehun versi cute. Kira-kira kalau cerita ini aku jadiin series gini ada tertarik gak ya? Atau kalau ada yang mau ngasih saran mereka harus gimana boleh dong ditulis di kolom komentar. Aku tunggu yah~

 

Terima kasih sudah baca ♡

 

Bonus foto kesayangan kita :’D

D8lt2i9UIAAIxzU

 

D8lt16KUIAUNXoJ

 

65 thoughts on “When Oh Sehun Become Your Husband

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s