Dear Husband: Marriage Scenario

20180222_130634_0001

Prev:

The day When I Meet You –  Taken By The Past

“The nightmares of you will come find me. Again today, because of your memories all night.” ―Up All Night, Lee Hi feat Tablo

Cerita ini dimulai dengan kekacauan kecil yang disebakan oleh sepasang laki-laki dan perempuan yang enggan mengalah. Jung Nara, gadis muda yang egonya menjulang tinggi serta merasa disakiti. Sehun yang memiliki gengsi tak terkalahkan dan enggan merasa bersalah atas perbuatannya. Mereka berdua kini harus bertemu dalam suatu acara sakral yang disebut perjanjian pernikahan. Oh tidak, bukan mereka yang menikah, akan tetapi pernikahan Liv dan Chanyeol.

Mereka sama sekali tak saling menyapa, berdiri berdampingan, ataupun berfoto bersama. Celakanya, kedua orang tersebut adalah pendamping dari mempelai laki-laki serta perempuan. Liv bahkan sudah berulang kali membolakan mata pada mereka ketika Nara dan Sehun hanya saling melotot saat fotografer mengambil potret keluarga.

“Bisa tidak kalian bersikap lebih dewasa?” gumam Liv ketika Sehun berdiri di sampingnya.

“Aku baik-baik saja, mungkin adikmu yang terlalu melankolis,” balas Sehun. Mereka sudah berdiri di depan para tamu untuk sesi pemotretan.

“Aku tidak ingin foto pernikahanku rusak gara-gara ekspresi kalian yang saling ingin memakan,” Liv berkata dengan berbisik.

“Jangan khawatirkan mereka. Dekorasi dan ruangan ini terlalu indah untuk diabaikan,” sahut Chanyeol yang ternyata ikut serta dalam perbincangan tersebut. Gedung yang mereka gunakan untuk resepsi merupakan salah satu bagian dari The Three Clouds milik Sehun. Serupa tempat-tempat yang berlabel The Three Clouds bangunan luas itu tak jauh dari kesan mewah dan elegan.

Liv mendesah kesal. Ia berusaha menarik ujung bibirnya membentuk senyum simpul.

“Kau juga sangat rupawan, Love,” puji Chanyeol sebelum suasana hati Liv kelabu. Pujian Chanyeol memang tulus. Liv kini memakai gaun putih panjang, tiara menghiasi surainya, dan riasan menambah kecantikan yang memang sudah wanita itu dapatkan sejak lahir. Chanyeol pun tampak menawan hari ini, apalagi senyum lebar tak lepas dari rautnya yang tampan.

Pernikahan mereka sangat sempurna sebab para tamu datang untuk mengucapkan selamat serta memeriahkan suana. Akan tetapi, Jung Nara justru tak nyaman dengan keramaian. Gadis itu terus saja berusaha sembunyi atau setidaknya berharap dirinya dapat menghilang barang sebentar saja.

Pada pertengahan acara Nara kabur menuju taman belakang gedung. Kawasan itu memang tak luput dari pujian Nara. Sedari tadi si gadis mengaggumi setiap detail yang ada di sana. Bahkan air mancur Aphrodite berada di tengah taman yang sekelilingnya terdapat bunga lili kuning dan mawar merah. Nara duduk di kursi panjang kayu yang paling dekat dengan air mancur. Ia suka mendengar gemericik air yang di latar belakangi oleh langit sore.

Nara melepas high heels dua belas sentimeter bewarna biru muda yang tadi dikenakannya. Gadis itu merasa kakinya hampir saja lepas, jika ia tak melarikan diri. Nara membuka tas kecil yang sedari tadi dibawa kemana-mana. Tas itu berisikan ponsel dan cermin yang digunakan si gadis untuk memeriksa ulang riasan. Surainya yang diurai, diberi hiasan hairpin kristal dan kedua sisinya dibuat sulur-sulur yang menyatu di tengah. Seluruh tatanan yang dikenakan si gadis sangat sesuai dengan gaun satin biru laut yang dikenakannya. Gaun tersebut sangat sederhana. Pada bagian bahunya terbuka, ada tali tipis yang menjadi sandatan. Nara sempurna hari ini.

Seharusnya semuanya sempurna. Namun, ada satu hal yang menjadikan Nara berduka.

Ibunya tidak hadir, bahkan ketika Chanyeol menikah pun wanita itu tak ingin menampakkan diri. Hanya Tuan Park yang datang. Pria paruh baya tersebut menghibur Nara sepanjang acara, beliau tak henti-hentinya mengatakan apabila sang ibu belum siap dan suatu hari nanti mereka akan berkumpul kembali. Tuan Park juga menyatakan bahwa ibu Nara terlalu mencintai kediaman mereka yang ada di Tokyo. Akan tetapi, Nara sudah menunggu terlalu lama, hampir empat belas tahun berlalu sejak mereka berpisah. Nara merindukan sosok seorang ibu selama itu.

Noona,” suara bariton itu terdengar di telinga Nara bersamaan dengan tangan yang menepuk bahu si gadis.

Nara tesadar dari lamunan. Ia menengadah, menemukan sosok pria bersurai cokelat yang tengah tersenyum hingga sepasang netranya membentuk bulan sabit. “Oh my god, Kang Daniel,” Nara segera berdiri. Ia langsung memeluk Daniel. “Pria kecilku, kau sudah sebesar ini. Tapi, senyummu tidak berubah,” lanjut Nara sembari mengendurkan pelukannya.

“Aku bukan anak kecil lagi. Aku bahkan sudah mendapat pekerjaan,” timpal pemuda tersebut. Ia memutar bola mata, ketika Nara memberikan tatapan tidak percaya. “Serius, seperti janjiku dulu. Aku akan buru-buru kembali ke Seoul setelah menyelesaikan semuanya dan menunjukkan padamu,” lanjut Kang Daniel.

“Benar lima tahun tidak berjumpa denganmu. Wah, kau sudah bertambah tinggi,” puji Nara. Ia sedikit berjinjit untuk membelai kepala Daniel serupa caranya mengelus anak anjingnya.

Daniel menghindar, “Aku bukan anak kecil lagi, Jung Nara,” keluh Daniel.

Nara memukul pelan kepala pemuda yang mengenakan jas hitam dan dasi bewarna merah marun itu. “Kau harus tetap memanggilku ‘noona’.”

“Kita hanya selisih dua tahun,” elak Daniel. Pemuda itu mengikut Nara yang kembali duduk. “Toh, usia hanyalah sebuah angka.”

“Sifatmu sama sekali tidak berubah,” ucap Nara setelah menghela napas panjang. Gadis itu memijat kaki yang kini mulai pegal.

“Pakai ini saja,” ujar Daniel. Ia membuka tas kertas yang sedari tadi dibawanya, ada kotak sepatu di sana. Daniel mengangsurkan sepasang sepatu yang haknya tidak terlalu tinggi.

Nara menyipitkan mata melihat pemuda yang dulu sempat menjadi tetangganya. Daniel dulu sering sekali mengikutinya ke mana saja, sampai Nara lelah mengusirnya, kemudian malah menjadikan mereka tidak terpisahkan. “Kau membawa-bawa sepatu perempuan ke mana-mana, ya? Apa kau sekarang jadi playboy?

Daniel menggeleng. “Aku tadi mengamatimu. Sebenarnya ingin segera menyapa, tapi kau tampak sangat sibuk. Lalu, aku melihatmu terhuyung-huyung karena sepatu itu jadi aku pergi ke toko sebelah untuk mencari sepatu yang pas,” pemuda itu menjelaskan sembari membantu Nara mengenakan alas kaki yang dibawanya.

“Bagaimana kau tahu ukuran kakiku?”

Hyung yang tahu,” jawabnya.

Nara mengerucutkan bibir. “Ternyata Park Chanyeol perhatian juga

Bukan Chanyeol Hyung, tapi Sehun Hyung.”

“Oh Sehun?” ulang Nara.

“Iya, Oh Sehunsepupuku,” balas Daniel, ia tertawa melihat ekspresi Nara yang begitu terkejut.

“Kau tidak pernah cerita, jika dirimu mempunyai sepupu

Noona tidak pernah tanya soal silsilah keluargaku,” pangkas Daniel cuek. Ia melepas jas hitamnya, menyisakan kemeja putih yang membalut tubuh. Tanpa aba-aba Daniel meletakkan jas tersebut di bahu Nara. “Satu lagi, ia juga berpesan agar aku menjagamu tetap hangat. Kau tidak boleh demam lagi.” Daniel menjungkitkan bibir, ia berdiri. “Sampai jumpa, Noona. Kita akan sering bertemu nantinya. Oh ya, kembalikan pakaian itu pada Hyung, aku meminjamnya tadibelum sempat membongkar koper.” Daniel pun menutup obrolannya dengan melenggang pergi begitu saja.

Sementara Nara, tertegun di sana sambil mengamati kakinya.

Ini kedua kalinya Nara berada di situasi seperti ini. Nara berada di kursi penumpang sementara Sehun mengendarai mobil dengan diam. Lagi-lagi keadaan tersebut disebabkan oleh pasangan yang kini tengah berbahagiaChanyeol dan Liv. Mereka memaksa Sehun mengantar Nara pulang karena hari sudah sangat larut. Nara tentu saja menolak habis-habisan, bahkan ia sempat hampir menangis namun segera diurungkan mengingat usianya sudah dua puluh dua tahun.

“Ini jasmu,” ujar Nara pada akhirnya. Ia menyerahkan jas hitam yang sudah dilipat rapi. “Daniel bilang kalau aku harus memberikannya padamu.”

“Ambil saja

Aku perempuan, tidak butuh jas.”

Sehun mencoba bersabar. “Begini, Nara. Bukankah kau perlu mencuci baju yang kau pinjam sebelum mengembalikan?”

“Oh ya, benar,” Nara mengigit bibir. “Maaf,” sambungnya.

“Bagaimana keadaanmu?’ tanya Sehun membuat topik baru.

“Aku baik,” jawab Nara.

Sehun menyengkram setir mobil. “Maaf soal yang aku ucapkan beberapa hari lalu,” ucap Sehun melalui bibir tipisnya.

Nara tak langsung menjawab. Ia bahkan membuang muka ke arah jendela, pura-pura tidak mendengar apa yang pria itu bicarakan.

“Kau mungkin sudah mendengar banyak hal mengenai diriku dan Ahra. Mendiang ayahmu dan keluargaku memiliki perjanjian untuk menyatukan perusahaan. Sedari kecil aku hanya benar-benar mengenal dua orang, assisten pribadiku dan Jung Ahra. Kakak perempuanmu memiliki banyak peran dalam hidupku. Dia sahabat, saudara, dan kekasih. Kami akan menikah, tapi beberapa hari sebelumnya. Dia meminta ijin dariku untuk menjengukmu ke Tokyo. Sehari setelah keberangkatannya, mereka mengabarkan jika Ahra meninggal,” Sehun menceritakan segala hal yang sedari tadi mengisi pikirannya.

“Aku tidak pernah tahu, apabila kau dan kakakku …. Aku terlalu kecil untuk memahami,” Nara menimpali, suaranya agak serak.

“Ya, itu yang membuatku marah,” balas Sehun.

Setelahnya, tak ada lagi perbincangan yang mereka angkat. Nara memilih diam. Sehun terlalu berkonsentrasi pada pikirannya sendiri.

Sehun menghentikan mobil tepat di depan kediaman Keluarga Park. Ia mengambil dokumen yang berada di dasbor mobil, kemudian menyerahkannya pada Nara. “Dokumen penawaran yang kau berikan waktu itu, aku sudah membacanya. Satu minggu lagi, temui aku di kantor utama. Aku tidak ingin kau mengerjakan semuanya sendiri, bawa timmu.”

“Kau tahu Oh Sehun, dirimu membuatku bingung. Kadang kau sangat baik, tetapi terkadang kau membuatku kesal,” komentar Nara. “Terima kasih soal sepatu, jas, dan sudah mengantarkanku pulang. Sampaikan salamku pada Daniel, sampai jumpa.” Nara pergi masuk ke dalam rumah sebelum Sehun sempat memberikan respons atas ucapannya.

“Sudah sampai tahap mana?” tanya seorang wanita yang menjabat sebagai rekan kerja Nara. Mereka baru saja menyelesaikan presentasi plus mendapatkan persetujuan Sehun untuk bekerjasama dengan perusahaan di mana Nara bekerja. “Apa kalian berkencan? Ah tidak, dari caranya menatapmukalian pasti sudah menghabiskan malam bersama,” lanjutnya tanpa menyerah ketika ia berjalan di sepanjang lorong kantor utama The Three Clouds.

“Diamlah, Kim Jisoo. Kau membicarakan orang yang kini berjarak tak sampai lima meter darimu,” bisik Nara. Ia menarik Jisoo agar berbelok menuju ke lift, tadinya Jisoo tetap akan mengekori Sehun menuju ke kantor si pria.

“Aku yakin, dia sudah terbiasa dibicarakan. Tampan, kaya, dan seksi. Siapa yang bisa membungkam mulut untuk tak memuji

Kyungsoo akan sedih mendengarmu membicarakan pria lain,” vokal Nara mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Jangan mengubah topik,” Jisoo berkacak pinggang. “Kita semua tahu jika The Three Clouds bukan perusahaan yang mudah untuk ditaklukkan. Kau pasti menarik perhatian pemiliknya,” simpul Jisoo.

“Presentasi kita sangat bagus, tentu saja mereka tertarik.”

“Yang benar sajatidak mungkin” sekali lagi argumen Jisoo terputus oleh sapaan lain dari suara yang familiar di telinga Nara.

“Jung Nara,” Sehun menghentikan langkah kedua gadis tersebut. Setelah mereka berbalik arah menghadapnya, Sehun melanjutkan, “Apa aku bisa meminta waktumu sebentar, Nona Jung?”

“Ya, tentu saja boleh,” Jisoo menjawab dengan tangkas. Ia bahkan mundur satu langkah, lalu mendorong Nara agar maju. “Nara sudah tidak ada janji setelah ini. Bahkan aku yakin, kepala divisi kami akan membiarkan Nara cuti selama satu minggu.”

“Terima kasih, Do Jisoo,” Sehun mengucapkan sembari tersenyum.

Tarikan bibir Sehun yang membentuk goresan ramah di bibirnya membuat Nara mengernyitkan dahi. Nara tak dapat lagi menahan semua ocehan yang sedari tadi mengisi kepalanya. “Kau mengajakku ke mana?”

“Makan siang,” Sehun berucap datar. Ia melonggarkan dasinya, kemudian menekuk lengan kemejanya hingga sesiku.

Mereka sampai ke lantai satu, lalu segera menuju lobi. Nara berusaha menjaga jaraknya dengan Sehun. Ia tidak nyaman dengan semua tatapan yang pegawai Sehun berikan. Nara seolah menjadi buronan. Namun, Sehun nampaknya ingin menggoda gadis yang usianya terpaut dua belas tahun dengannya. Sehun sengaja memelankan laju kakinya agar mereka bisa berjalan bersisihan.

“Apa yang ingin kau makan?” Sehun mulai mengajukan pertanyaan.

“Terserah, aku tidak bisa makan udang dan kacang.”

“Aku tahu.”

“Kau tahu, Oh Sehun?” Nara menghentikan tiba-tiba jalannnya tepat di depan pintu keluar. Ia bingung dengan semua pengetahuan Sehun mengenai diri Nara.

Sehun menarik tangan Nara agar mereka dapat menuju Audi RS7 hitam yang telah disiapkan. “Chanyeol yang memberitahuku. Dia mengirimiku pesan singkat yang mengancam bahwa aku harus memberimu makan selama mereka bulan madu,” ungkap Sehun.

Nara mendengus kesal. Ia memerhatikan tangan Sehun yang menggenggam jari-jarinya, bahkan pemuda itu tak melepaskannya sewaktu ia bicara pada asisten pribadinya agar tidak mengikuti mereka.

Sehun membawa Nara ke The Evenue Park. Mereka menyantap hidangan mahal di sudut ruanganmenghadap langsung cermin besar yang bingkainya terdapat ukiran sulur-sulur bunga. Nara sangat menikmati hal-hal yang ada di sana, hatinya langsung saja gembira mendengarkan permainan piano yang melatar berlakangi restoran mewah itu. Semua hal yang berada di sana merupakan favoritnya.

“Pelayan wanita itu berkata padaku, jika restoran ini didesain oleh calon istrimu … yang artinya itu kakakku,” gumam Ahra, tangannya sibuk memotong daging panggang.

Sehun mengangguk. “Ahra suka sekali melukis, The Evenue Park adalah salah satu karyanya yang kujadikan nyata.”

Nara berdecak, “Dasar orang kaya, kau membuatkan restoran sebesar ini untuk kekasihmu. Aku iri sekali. Saudaraku memang sangat beruntung.”

Sehun menatap Nara. “Aku yang sangat beruntung karena sempat bertemu dengannya. Walaupun, dia sudah tidak ada … aku masih bisa merasakan sebagian dari dirinya berada di dekatku.”

Nara membalas tatapan Sehun. Ia menyelami pupil cokelat tersebut, kemudian muncul senyum tulus dari si gadis. “Dia sangat beruntung sebab mendapatkan cinta yang begitu besar darimu,” Nara diam sejenak. “Jantung kakakku berdetak dalam tubuhku. Tidak banyak orang yang tahu mengenai hal ini, tapi aku rasakau perlu mengetahuinya karena dirimu mencintainya.”

“Aku sudah mengetahuinya,” Sehun membalas. Ia menarik napas, berusaha mengendalikan diri agar ekspresi dukanya tak mudah terbaca oleh lawan bicaranya. “Dia menyalahkan dirinya sendiri karena masih bertahan hidup, sementara kematiannya sangat dinantikan oleh keluarganya. Satu-satunya yang dapat mendonorkan jantungnya untukmu adalah Ahra.”

“Apa kau membenciku karena itu, Oh Sehun?” tanya Nara. Ia mengigit bibir, merasa sangat bersalah.

“Ya, tentu saja dan juga perjanjian yang masih mengikat keluarga kita berdua.” Sehun sengaja memberikan jeda agar Nara dapat berpikir jernih. “Kau akan menggantikan posisi Ahra. Kita akan menikah. Pertemuan kita sudah didengar oleh mereka. Keluargaku akan segera bergerak untuk meminta perjanjian yang diberikan.”

“Apa?” Nara membolakan mata. Ia menulusuri paras Sehun melalui netranya. Nara tak menemukan raut bercanda di sana. “Aku punya kehidupan sendiri. Aku tidak bisa memenuhi

“Bukankah kau ingin bertemu ibumu?’ potong Sehun. “Ibumu mungkin akan datang untuk pernikahanmu.”

“Aku tidak butuh itu. Aku bisa menemui ibu sendiri

Dengan pergi ke Tokyo? Kau bahkan tak bisa naik pesawat.” Sehun tertawa mencemooh, nadanya penuh ejekan yang menyidir si gadis.

Gadis itu diam. Ia tidak dapat menimpali karena Sehun memang telah menyebutkan kelemahannya.

“Bukankah sangat menarik membuat Jung Nara mengobrol dengan Han Haera setelah empat belas tahun lamanya? Kira-kira apa yang akan dikatakan Han Haera ketika bertemu dengamu? Penyesalan teramat dalam karena lebih memilihmu, lalu membunuh Ahra? Aku sangat tertarik mendengarnya.” Sehun berucap, nada sinis melekat tajam pada intonasinya.

-oOo-

Cerita ini juga dapat dibaca di wattpad.com/twelveblossom atau bisa mengunjungi Line@ Twelveblossom (@NYC8880L).

Terima kasih atas komentar pada part sebelumnya dan terima kasih sudah membaca ya^^.

Advertisements

259 thoughts on “Dear Husband: Marriage Scenario

  1. klo dh ceritanya masalah nikah kontrak
    yg antagonis kadang bisa berubah perannya gitu jadi pihak yg ikutan tersakiti juga
    lanjut dehh daripada salah tebak
    hahahah……..

  2. Omo!ternyata nara nerima donor jantung dr ahra??pantes sehun kdg2 sk kliatan benci kl liat nara..tp dsisi lain dy kok jg baik bgt sm nara..bknnya sehun udh lama bgt gk ktm nara,gmn bs dy tau hmpir semua ttg nara ?dr chanyeol kah??apa ibu ny nara sejahat itu?smpe ngorbanin anak ny sndr buat nyelamatin anak yg satu nya??ahhh…bnyk bgt yg msh jd teka/i..suer,seru bgt bca nya..

  3. “aku tidak mau fto pernikahananku rusak krna aurah klian ” aku ngakakkk

    dan sih sehun uuhhh diam2 prhatian juga yeehh sma nara utataaa.. walaupun rada pedis sih ucapannya -_-

  4. Mau gimanapun ff bikin horornya sehun,aku gabisa benci sehunku hahaha. Tapi rasa kesal ada sih.. judes. Tapi lucu😂✌🏻

  5. Dari jaman masih single ampe sekarang udh pnya anak seneng bgt baca ff di ffi.
    Semangat berkarya author-nim

  6. Kadang baik kadang nyakitinn duh tuh mulut sehun pgn gua apain gtu kasian nara juga woi hu :(( sukaaaaaa ama plot nyaa duhh makin semangat lanjut hehehehhe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s